Kamis, 24 April 2014

Kreatifitas Kunci Meraih Masa Depan



Kreatifitas Kunci Meraih Masa Depan
  Kreatifitas sangat dibutuhkan untuk dapat mengembangkan potensi diri. Pada kesempatan yang langka, yaitu Gubernur Mengajar di SMKN 2 Jepara, Dr. Ir. Agung Budi Susanto, MM dari P2TK Dikmen Jakarta menyatakan bahwa kreatifitas dapat diupayakan oleh siapapun yang mau berusaha. Khususnya bagi siswa sekolah kejuruan kreatifitas sangat dibutuhkan.
            Namun kreatifitas ini tidak bisa muncul dengan sendirinya. Perlu ditumbuhkan agar berkembang dan dapat direalisasikan dalam bentuk karya nyata. Di sekolah kejuruan sangat diharapkan memiliki lingkungan yang mampu memotivasi dan memdukung munculnya kreatifitas siswa secara maksimal. Karena di sekolah tempat yang tepat bagi siswa untuk memaksimalkan potensi diri.
Berikut ini lima cara menumbuhkan kreatifitas menurut Agung, pertama yaitu observasi, mengamati lingkungan sekitar dimana kita berada. Baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat luar. Kejelian dalam mengamati lingkungan ini akan menumbuhkan pikiran-pikiran yang kreatif sesuai dengan bekal keilmuan di sekolah. Kedua bertanya, menindaklanjuti hasil pengamatan yang menimbulkan pertanyaan. Setelah pengamatan akan muncul permasalahan yang perlu dipertanyakan. Jangan segan dan malas untuk bertanya apapun berkaitan dengan apa yang diamati.
Ketiga diskusi, mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang muncul setelah mengamati suatu hal.
Dengan berdiskusi akan memperoleh jawaban dan pemikiran yang luas. Hal ini akan membuka dan menambah wawasan kita, karena pemikiran orang banyak akan lebih baik jika dipikirkan oleh seorang saja. Keempat asosiasikan hasil diskusi atau menyimpulkannya. Dengan kesimpulan yang dibuat akan muncul pemikiran baru dari pengamatan. Pemikiran dan ide baru inilah yang membuat kita kreatif. Terakhir yaitu komunikasi. Setelah ada kesimpulan atau hasil pemikiran maka harus dikomunikasikan. Hasil pemikiran akan bermanfaat bagi orang lain jika dikomunikasikan.
Sepertinya tidak sulit dipraktikkan untuk menumbuhkan kreatifitas kita. Sebagai insan kejuruan tentu kreatifitas memegang kunci penting untuk mengekspresikan ide-ide yang ada dalam kepala kita. Oke bersiaplah menumbuhkan kreatifitas kita untuk mengekspresikan diri meraih sukses masa depan. Semangat!

Selasa, 18 Maret 2014

pembelajaran abad 21



PEMBELAJARAN ABAD 21
18 Maret 2014
Guru berada pada posisi kunci dalam pendidikan kita. Meskipun saat ini didengungkan pembelajaran  berpusat pada peserta didik,  namun posisi guru tetaplah yang utama dalam proses pembelajaran. Mengapa demikian? Karena peserta didik tidak dapat belajar sendiri tanpa bantuan dan bimbingan seorang guru, meskipun informasi dan pembelajaran sudah sangat mudah didapatkan.
Saat ini kita sudah masuk pada pembelajaran abad 21. Dimana ciri dari abad ini adalah informasi diperoleh dengan sangat mudah. Bahkan siapapun orangnya akan dapat mengakses informasi apapun, dimanapun dan kapanpun. Boleh dikatakan bahwa masa ini adalah milik generasi muda, guru hanyalah pendatang di dunia mereka. Menyadari hal ini maka dibutuhkan strategi yang mampu diterapkan pada dunia mereka yang sangat luar biasa. Tugas yang sangat berat bagi guru karena mengajar didunia generasi muda yang bisa jadi lebih update dari guru itu sendiri.
Salah satu solusinya adalah guru harus menjadi kreatif, profesional dan menyenangkan. Hal ini penting untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan.
Berikut ini sedikit informasi untuk rekan guru dalam menyelami pembelajaran abad 21.
Ada lima pendekatan pembelajaran yang bisa membantu untuk dapat mengajar dengan baik. Diantaranya yaitu dengan pendekatan kompetensi, pendekatan ketrampilan proses, pendekatan lingkungan, pendekatan kontekstual, dan pendekatan tematik.
a.      Pendekatan kompetensi
Kompetensi menunjuk pada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar. Beberapa hal yang mendasari penekatan kompetensi adalah; pertama adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual. Pembelajaran ini disesuaikan dengan kemampuan individual peserta didik. Kedua pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning), sistem pembelajaran yang tepat semua peserta didik akan dapat belajar dengan hasil yang baik dari seluruh bahan yang diberikan. Untuk itu perlu pengkondisian lingkungan belajar yang kondusif.  Ketiga adalah usaha penyusunan kembali definisi bakat. Hal ini berkaitan dengan waktu yang cukup bagi peserta didik untuk mencapai penguasaan suatu tugas belajar. Berikan kelonggaran waktu pada peserta didik dalam menyelesaikan tugas belajarnya, jika tidak selesai dikerjakan di sekolah beri peluang untuk menyelesaikan tugasnya di luar kelas. Dalam pembelajaran  dengan pendekatan kompetensi yang perlu diperhatikan yaitu menetapkan kompetensi yang ingin dicapai, mengembangkan strategi untuk mencapai kompetensi tersebut, dan adakan evaluasi.
b.      Pendekatan ketranpilan proses
Pendekatan ini merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktifitas, dan kreatifitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ketrampilan proses memperhatikan potensi peserta didik yang berbeda-beda, motivasi  yang diwujudkan dalam keaktifan peserta didik, pendayagunaan potensi yang dimiliki, suasana kelas yang mendukung, dan kemudahan belajar  yang diberikan guru melalui bimbingan dan motivasi untuk mencapai tujuan. Kegiatan yang mendukung hal tersebut  diantaranya adalah diskusi, pengamatan, penelitian, praktikum, tanya jawab, karyawisata, studi kasus, bermain peran, dan kegiatan kreatif lainnya yang menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.
  1. Pendekatan lingkungan
Pendekatan pembelajaran yang berusaha meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan akan menarik perhatian peserta didik karena diangkat dari lingkungan mereka sendiri sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaidah bagi lingkungannya.
Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti peserta didik mendapat pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri hal-hal yang ada disekitrnya. Secara konkrit pembelajaran ini dapat dilakukan dengan karyawisata atau study tour, dan atau membawa sumber belajar ke dalam kelas yang bentuk model ataupun narasumber.
  1. Pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual atau dikenal dengan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga mereka dapat menerapkan hasil pembelajaran di sekolah pada kehidupan sehari-hari. Pada pembelajaran ini guru tugasnya adalah memberikan kemudahan belajar dengan menyediakan fasilitas sarana prasarana dan sumber belajar yang memadai. Pembelajaran CTL menekankan pada proses belajar peserta didik bukan pada hasil yang diperoleh, serta menumbuhkan teamwork yang akan menjadi bekal mereka di kehidupan nyata.
  1. Pendekatan tematik
Pendekatan tematik atau pendekatan terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian pengalaman belajar, sehingga terjadi saling berhubungan satu dengan yang lainnya, dan berpusat pada sebuah pokok atau persoalan. Pendekatan ini biasanya diterapkan pada sekolah TK atau RA dan sekolah dasar yang membutuhkan penanaman karakter dan pengetahuan dasar peserta didik.
Pendekatan tematik lebih maksimal jika dilakukan dengan team teaching atau pembelajaran beregu. Pendekatan ini menuntut kreatifitas guru dalam memilih dan mengembangkan tema pembelajaran dan menyorotinya dari berbagai aspek.
            Dari uraian diatas dapat dipilih dan dikombinasikan pendakatan mana yang sesuai dengan kemampuan guru dan karakter peserta didik. Semoga apa yang kami sampaikan dapat menambah pengetahuan rekan-rekan  guru. Salam penuh semangat dalam mencerdaskan anak bangsa.

Selasa, 29 Oktober 2013





REVIEW JOURNAL

JUDUL

       
Peer activities on Web-learning platforms-Impact on collaborative writing and usability issues

PENULIS : Paolo Davoli. Matteo Monari. Kerstin Severinson Eklundh
Diterbitkan oleh: Springer Science + Bussines Media.LLC. 2008

REVIEWER : INDRIA MUSTIKA









PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN
KONSENTRASI KEPENGAWASAN
2013







REVIEW JOURNAL
Judul: Peer activities on Web-learning platforms-Impact on collaborative writing and usability issues
PENULIS : Paolo Davoli. Matteo Monari. Kerstin Severinson Eklundh
Diterbitkan oleh: Springer Science + Bussines Media.LLC. 2008



1.      PENDAHULUAN

Web learning platform merupakan e-learning sistem pendidikan yang berbasis web yang model pendidikan konvensional dengan menghadirkan kondisi akses apa adanya ke kelas, isi kelas, tes, pekerjaan rumah, atau sumber belajar lainnya yang ada di luar sekolah. Hal ini merupakan ruang sosial di mana siswa dan guru dapat berinteraksi melalui diskusi bergulir atau chatting. Hal ini biasanya menggunakan Web 2,0, alat untuk berinteraksi dua arah dan termasuk sistem manajemen konten.
Belajar seperti ini dapat terjadi serentak atau asynchronous, dalam sistem sinkron, peserta bertemu di real time waktu yang sesungguhnya, dan guru melakukan atau menghidupkan situasi kelas dalam ruang kelas virtual. Siswa dapat berkomunikasi dengan mikrofon, chatting, atau menulis di papan tulis. Dalam pembelajaran ansynchronous yang kadang disebut pembelajaran self paced, siswa diharapkan untuk menyelesaikan pelajaran dan tugas sendiri melalui sistem. Setiap siswa memiliki kecepatan belajar sendiri berbeda satu dengan yang lain.
Pada lingkungan pembelajaran ini juga dapat mencakup siswa dan guru bertemu secara online melalui aplikasi berbasis web sinkron. Guru mampu menyajikan pembelajaran melalui video, power point atau chatting. Para siswa dapat bicara dengan guru dan siswa lain, serta berkolaborasi satu sama lain, menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan, dengan menggunakan peralatan yang tersedia dan memadai. Aplikasi yang merupakan bagian dari layanan online ini dapat mencakup halaman web, email, papan pesan dan forum diskusi, teks dan video converencing, buku harian bersama dan lainnya.
           
2.      ISI JURNAL

A.    Jurnal ini berjudul  
PEER ACTIVITIES ON WEB-LEARNING PLATFORMS-IMPACT ON COLLABORATIVE WRITING AND USABILITY ISSUES (Kegiatan rekanan pada pembelajaran web dan dampaknya terhadap penulisan kolaboratif dan kegunaannya). PENULIS : Paolo Davoli. Matteo Monari. Kerstin Severinson Eklundh. Diambil dari Springer link Pada 12 Maret 2008, volume 14 nomor tiga.

B.     Tujuan penelitian
 Tujuan dalam penelitian ini adalah;
Teknologi groupware dapat digunakan dalam bidang pendidikan untuk meningkatkan penulisan kolaboratif yang meningkatkan umpan balik antar siswa sebaya. Tiga hal platform e-learning (ping-pong, Blackboard dan Moodle) adalah contoh groupware yang digunakan dalam pendidikan. Jurnal ini bertujuan untuk mengevaluasi ketiga platform e-learning dengan mempelajari
  1. Sejauh mana mereka mendukung tulisan kolaboratif
  2. Apa dampak yang ditimbulkan pada organisasi kerja, menulis, umpan balik sebaya dan hubungan rekanan setelah tools ini diadobsi,
  3. Apa kegunaannya telah diidentifikan dalam desain saat ini.

C.    Metode
Untuk meninjau setiap studi kasus, penulis menganalisa tiga kursus di tiga universitas yang berbeda di Swedia dan Italia. Setiap kursus telah mengadopsi baik Ping Pong, Blackboard maupun Moodle. Secara keseluruhan, tiga kelas yang diteliti terdiri dari siswa dari berbagai usia dengan ketrampilan komputer yang berbeda namun memiliki ketertarikan yang sama besarnya.
Pertama, penulis melakukan penelitian kuantitatif dengan merancang kuesioner untuk menangkap persepsi sesuai dengan pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian. Pertanyaan yang dirancang sesuai dengan tujuh kategori dalam model yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk menangkap persepsi siswa tentang e-learning tools groupware.
Kedua, sebagai komplementasi sebuah survei dirancang untuk memahami apa yang dianggap sebagai perubahan sejak menggunakan platform dan masalah apa yang dihadapi oleh pengguna.

D.    Temuan  Utama
Temuan yang didapat diantaranya adalah;
  1. Dampak positif yang ditimbulkan oleh tools tidak bergantung pada konteks adopsi
  2. Kebutuhan dari fungsi tools tergantung pada konteks penggunaannya
  3. Beberapa alat komunikasi sinkron tidak digunakan sama sekali
  4. Dengan menggunakan tiga platforms, siswa menghabiskan lebih banyak waktu pada kegiatan umpan balik, siswa memberikan perhatian lebih dalam gaya tulisan dan konten mereka, komunikasi lebih terfokus, jujur dan secara tidak langsung mendorong orang pemalu dan bergangguan untuk komunikasi dapat aktif berkomunikasi
  5. Tiga platform dikenai dari daftar masalah kegunaan, terutama dalam tiga kategori;
a.       Perbedaan aplikasi web dengan aplikasi standalone, yang sebagian besar pengguna sudah akrab
b.      Ketidak cocokan dengan hal OS, browser, dan teks format
c.       Fasilitas penjelasan untuk mengedit dokumen hilang
3.      Analisa
Penelitian ini merupakan studi kasus dengan tujuan yang jelas dan metodologi yang terencana. Tujuan  penelitian tentang dampak positif tools yang dihasilkan mengejutkan karena siswa dalam studi mereka benar-benar menggunakan  alat tersebut untuk berbagai kegiatan lain, seperti mengomentari siswa lain yang sedang bekerja. Satu pernyataan yang dapat diulang beberapa kali di kertas, lingkaran hermeneutik harus dibentuk untuk pendidikan dan teknologi jabatan. Produsen alat dan konsumen harus lebih terbuka dan lebih bersedia untuk membantu satu sama lain sehingga produsen tahu bagaimana meningkatkan produk mereka dan konsumen mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Pada masa lalu, produsen biasanya mengambil tanggung jawab memulai studi pengguna tetapi dengan partisipasi era Web 2.0, komunikasi dua arah antara produsen dan konsumen menjadi mungkin dan sangat umum. Sebagai contoh email client thunderbird mendorong penggunanya untuk memilih fitur yang paling dicari untuk versi berikutnya.
      Dalam dunia akademis, seberapa sering kita melihat dokumen yang menggambarkan  penerapan studi penelitian sebelumnya dalam kontek tertentu dan evektifitasnya. Seberapa sering sebuah penelitian meliputi prakti dalam tinjauan pustakanya. Menurut hasil pendahuluan, mayoritas pendidik tidak tahu bagaimana menyesuaikan diri dan mengadopsi temuan penelitian meskipun  sebagian besar dari mereka menyadiri temuan baru.

 

 




Daftar Pustaka
Hanjun. http://hanjunxian.wordpress.com/2011/11/06/raa3-peer-activities-on-web learning platforms-Impact on collaborative writing and usability issues

Rochaety. Dkk. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. 2008. Bumi Aksara. Jakarta.