Minggu, 08 Juni 2014

team teaching tanpa instrumen



Team Teaching Strategi  Tanpa Instrumen  

Tujuan utama Pendidikan  Sekolah Menengah Kejuruan – SMK – adalah menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja yang memiliki keahlian di bidangnya. Dengan demikian diharapkan para lulusan SMK   mampu mengisi lapangan kerja yang ada dan bahkan menciptakan lapangan kerja baru. Karena itu dalam proses  pembelajaran produkif  para siswa membutuhkan bimbingan yang  intensif dari guru  sehingga para peserta didik dapat benar-benar menguasai diklat produktif yang diajarkan.
Salah satu metode yang efektif dalam proses pembelajaran produkif adalah menggunakan metode team teaching. Team teaching merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam proses pembelajaran peserta didik. Namun  dengan pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas. Dengan teknik team teaching diharapkan antar guru dalam tim  dapat bekerja sama dan saling melengkapi dalam mengelola proses pembelajaran diklat produktif. Oleh sebab itu sudah tentu diperlukan persiapan yang matang   dari  para guru yang terlibat dalam team teaching mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi.
Namun demikian, belum semua SMK  menerapkan strategi team teaching dengan berbagai macam alasan mulai dari belum  adanya pijakan hukum  yang jelas,  ketersediaan guru hingga persiapan yang cukup merepotkan. Terabaikannya metode ini juga nampak pada peran pengawas dalam melakukan penilaian atas kinerja guru yang hanya menampatkan penilaian kinerja guru sebagai individu, bukan sebagai tim.  Sehingga kinerja tim tidak terukur kualitasnya selama ini.
Instrumen penilaian kinerja guru yang sudah umum digunakan para pengawas untuk menilai kinerja guru baik individu maupun team teaching diantaranya adalah: Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG); Evaluasi Kinerja Guru (EKG); instrumen penilaian kinerja guru mata pelajaran/guru kelas; dan Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG).
Semua instrumen tersebut memiliki aspek-aspek penilaian yang terdiri dari : aspek pertama perencanaan pembelajaran yang menilai kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran. Aspek kedua menilai pelaksanaan pembelajaran yang menilai kinerja guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas atau diluar kelas. Aspek yang ketiga adalah penilaian pembelajaran yang menilai kemampuan guru dalam melakukan penilaian hasil pembelajaran peserta didik. Dilihat dari isi instrumen tersebut tidak memiliki indikator kinerja tim sehingga tidak mampu menilai kinerja team teaching
Padahal kinerja team teaching mempunyai kriteria tertentu yang berbeda dengan kinerja guru individual. Kinerja team teaching dapat dilihat dan dinilai berdasarkan standar kompetensi yang harus dilakukan oleh guru yang tergabung dalam tim. Karakter tim disini adalah kerjasama yang proporsional antar anggota dalam tim. Semua kegiatan dalam pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan tindak lanjut dilakukan bersama tim dengan proporsi yang seimbang dan pembagian tugas yang jelas. Dalam penilaian kinerja guru, team teaching  harusnya dimaknai sebagai totalitas tindakan tim yang terdiri dari dua guru atau lebih dalam melaksanakan tugas profesionalnya  mulai dari perencanaan  pembelajaran, proses pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.
 Pengembangan instrumen
              Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru,  serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, maka dilakukan penilaian kinerja guru untuk mengevaluasi unjuk kerja guru terhadap pelaksanaan tugas dan kewajibannya.
            Penilaian kinerja guru ini menjadi tanggung jawab pengawas sekolah. Oleh sebab itu penilaian kinerja guru merupakan salah satu bagian kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah. Dalam melaksanakan supervisi akademik saat menilai kinerja guru, seorang pengawas sekolah sebaiknya memiliki kemampuan untuk: (1) memahami ruang lingkup variabel yang hendak dinilai terutama kompetensi-kompetensi guru; (2) memiliki standar dan atau menyusun instrumen penilaian; (3) melakukan pengumpulan dan analisis data; serta (4) membuat kesimpulan akhir (Dirjen PMPTK 2009:2).
Agar seorang pengawas dapat  memberikan penilaian kinerja  guru  dalam team teaching  ia harus mengembangkan instrument penilaian yang  bukan hanya untuk menilai kinerja guru secara individual tetapi juga guru secara tim. Pengembangan Instrumen penilaian kinerja team teaching memiliki beberapa apek penilaian yang menjadi objek penilaian atas team teaching, yaitu pada aspek perencanaan team teaching, pelaksanaan team teaching, dan penilaian team teaching. Masing-masing aspek yang menjadi objek penilaian kinerja team teaching tersebut memiliki indikator yang dijabarkan dalam beberapa deskripsi kinerja tim.
          Instrumen penilaian kinerja team teaching yang dikembangkan meliputi tiga aspek yaitu aspek perencanaan team teaching, aspek pelaksanaan team teaching, dan aspek penilaian team teaching. Masing-masing aspek dikembangkan menjadi beberapa indikator yang  dijabarkan dalam beberapa deskriptor.
            Pada aspek perencanaan team teaching ini terdapat tujuh indikator diantaranya adalah sebagai berikut:  (1) melakukan koordinasi tim dalam mengembangkan silabus sebelum pembelajaran; (2) membuat administrasi guru bersama tim; (3) menyusun program kerja guru bersama tim; (4) membuat instrumen penilaian bersama tim; (5) teknik pembelajaran, dengan tiga deskriptor meliputi penentuan metode, penyiapan media pembelajaran, serta pembagian materi bersama tim; (6)  membahas bersama pelajaran sampai teknis di kelas, dengan dua deskriptor yaitu pembahasan pelajaran sampai hal teknis di kelas, dan membagi tugas pembimbingan peserta didik saat di bengkel/kelas; dan (7) merencanakan peran serta dan tanggungjawab anggota tim, dengan deskriptor merencanakan peran serta dan tanggung jawab anggota tim.
          Pada tahap pelaksanaan pembelajaran produktif,  hal yang perlu dilakukan adalah: (1) tahap persiapan merupakan penampilan tim di kelas, dengan deskriptor menyiapkan job sheet dan administrasinya secara bersama tim; (2) tahap peragaan, tahap implementasi, metode dan strategi pembelajaran dan pelatihan peru mendapat penekanan oleh tim; (3) tahap peniruan, kegiatan peserta didik menirukan aktifitas yang dicontohkan/dipraktikkan oleh guru,  perlu penataan dan pengorganisasian kegiatan peserta didik, disini diperlukan koordinasi tim dalam membagi peran, pemantauan proses kegiatan, dan (4) tahap praktik, setelah peserta didik mampu menirukan cara kerja dengan baik dibantu oleh tim, peserta didik mengulang sendiri dengan tim yang siap membantu dalam pemakaian fasilitas sekolah dan kerja sama tim jika ada kesulitan  yang dihadapi. Konsekuensinya sekolah harus memenuhi kebutuhan praktik peserta didik dengan fasilitas yang memadai.
Pada pelaksanaan pembelajaran team teaching, dilaksanakan dengan beberapa metode. Yaitu metode demonstrasi, ceramah, dan metode proyek. Hal itu mengacu pada  Permendiknas No 22 tahun 2006 yang menyatakan bahwa pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Metode demonstrasi bertujuan agar peserta didik mampu memahami tentang cara atau proses membuat sesuatu (Roestiyah 2008:83). Metode ceramah digunakan untuk menerangkan materi dan menyimpulkan pokok penting dalam proses membuat sesuatu (Suryobroto 2009:156,) Metode proyek juga diterapkan pada pembelajaran produktif. Metode proyek akan memberikan kesempatan peserta didik untuk menghubungkan dan mengembangkan sebanyak mungkin pengetahuan yang telah diperoleh dari berbagai mata diklat yang diterima (Zainal Aqib. 2002:95). Kemudian dengan metode proyek diharapkan peserta didik akan dapat memantapkan pengetahuannya (Semiawan 1985:84). Metode proyek ini menghasilkan produk, memungkinkan penyaluran minat peserta didik dan dapat belajar untuk menelaah serta memandang suatu materi pelajaran dalam konteks lebih luas. Dengan pemilihan metode dalam proses pembelajaran produktif didukung teknik team teaching maka diharapkan lulusan akan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
Adapun pelaksanaan pembelajaran yang telah diuraikan diatas maka aspek-aspek yang dijadikan objek penilaian atas team teaching meliputi empat indikator yaitu: (1) penampilan tim di kelas atau bengkel; (2) peran serta dan tanggung jawab tim; (3) pengelolaan atau pengkondisian kelas oleh tim; dan (4) pemanfaatan sumber belajar yang berupa media, teknologi informasi, dan fasilitas sekolah.
            Dari beberapa indikator tersebut diatas dijabarkan dalam beberapa deskriptor. Yaitu; penilaian tentang kemampuan komunikasi yang efektif pada anggota tim; penilaian tentang kerja sama antar personil dalam tim.
 Indikator kedua yaitu peran serta dan tanggungjawab tim dijabarkan dalam beberapa deskriptor yaitu; penilaian mengenai pembagian pemateri dalam bengkel/kelas; penilaian pemantauan kompetensi peserta didik dalam mengerjakan tugas; dan penilaian mengenai kehadiran semua anggota team teaching dalam bengkel/kelas.
Untuk indikator ketiga yaitu pengelolaan atau pengkondisian kelas oleh tim diuraikan dalam dua deskriptor yaitu; penilaian mengenai pembagian peran guru dalam membantu peserta didik di bengkel/kelas; dan penilaian tentang pemantauan proses kegiatan belajar mengajar dalam bengkel/kelas.
Indikator ke empat terdiri dari tiga deskriptor, yaitu penilaian mengenai penyiapan job sheet bersama anggota tim dalam  pembelajaran di bengkel/kelas; penilaian mengenai pemakaian teknologi informasi dalam pembelajaran bersama tim; dan penilaian tentang pemakaian media oleh masing-masing guru dalam tim.
Tahap penilaian team teaching dilakukan bersama/koordinasi  tim dengan proporsi yang seimbang dalam; membuat/menyusun soal, metode pelaksanakan ujian/tes, tentang jenis tugas, dan tentang program remidial. Penilaian pembelajaran bertujuan untuk mencari model-model penilaian hasil belajar peserta didik dan proses belajarnya.
Pada aspek penilaian pembelajaran yang dijadikan objek penilaian atas team teaching ini terdiri dari lima indikator yaitu: (1) Guru merancang evaluasi untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan belajar peserta didik, dijabarkan dalam tiga deskriptor yaitu perencanaan bersama anggota tim dalam  pembuatan soal tes, persiapan bersama anggota tim dalam  memilih metode pelaksanaan tes, dan keterlibatan anggota tim dalam persiapan    pembuatan soal tes. indikator (2) Pemantauan aktifitas peserta didik di bengkel selama PBM, terdiri dari dua deskriptor yaitu pemantauan keaktifan peserta didik dalam praktik di bengkel/kelas, dan kerjasama peserta didik di bengkel/kelas. Indikator (3) Penilaian mengenai pelaksanaan test, meliputi pelaksanaan post test, pelaksanaan remidial, dan penyusunan instrumen penilaian hasil belajar. indikator (4) penilaian tentang kerjasama tim. Dan indikator (5)  refleksi diri angota team teaching deskriptor.
Dengan pengembangan instrument ini diharapkan dapat mengungkapkan fakta sebenarnya dari kinerja team teaching yang selanjutnya diolah menjadi data valid dan reliabel untuk mengetahui kualitas pembelajaran. Pengembangan instrumen penilaian kinerja team teaching merupakan salah satu usaha untuk menilai mutu dan kualitas kinerja menuju profesionalisme yang handal sesuai dengan standar proses pembelajaran.


           

Kamis, 24 April 2014

Kreatifitas Kunci Meraih Masa Depan



Kreatifitas Kunci Meraih Masa Depan
  Kreatifitas sangat dibutuhkan untuk dapat mengembangkan potensi diri. Pada kesempatan yang langka, yaitu Gubernur Mengajar di SMKN 2 Jepara, Dr. Ir. Agung Budi Susanto, MM dari P2TK Dikmen Jakarta menyatakan bahwa kreatifitas dapat diupayakan oleh siapapun yang mau berusaha. Khususnya bagi siswa sekolah kejuruan kreatifitas sangat dibutuhkan.
            Namun kreatifitas ini tidak bisa muncul dengan sendirinya. Perlu ditumbuhkan agar berkembang dan dapat direalisasikan dalam bentuk karya nyata. Di sekolah kejuruan sangat diharapkan memiliki lingkungan yang mampu memotivasi dan memdukung munculnya kreatifitas siswa secara maksimal. Karena di sekolah tempat yang tepat bagi siswa untuk memaksimalkan potensi diri.
Berikut ini lima cara menumbuhkan kreatifitas menurut Agung, pertama yaitu observasi, mengamati lingkungan sekitar dimana kita berada. Baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat luar. Kejelian dalam mengamati lingkungan ini akan menumbuhkan pikiran-pikiran yang kreatif sesuai dengan bekal keilmuan di sekolah. Kedua bertanya, menindaklanjuti hasil pengamatan yang menimbulkan pertanyaan. Setelah pengamatan akan muncul permasalahan yang perlu dipertanyakan. Jangan segan dan malas untuk bertanya apapun berkaitan dengan apa yang diamati.
Ketiga diskusi, mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang muncul setelah mengamati suatu hal.
Dengan berdiskusi akan memperoleh jawaban dan pemikiran yang luas. Hal ini akan membuka dan menambah wawasan kita, karena pemikiran orang banyak akan lebih baik jika dipikirkan oleh seorang saja. Keempat asosiasikan hasil diskusi atau menyimpulkannya. Dengan kesimpulan yang dibuat akan muncul pemikiran baru dari pengamatan. Pemikiran dan ide baru inilah yang membuat kita kreatif. Terakhir yaitu komunikasi. Setelah ada kesimpulan atau hasil pemikiran maka harus dikomunikasikan. Hasil pemikiran akan bermanfaat bagi orang lain jika dikomunikasikan.
Sepertinya tidak sulit dipraktikkan untuk menumbuhkan kreatifitas kita. Sebagai insan kejuruan tentu kreatifitas memegang kunci penting untuk mengekspresikan ide-ide yang ada dalam kepala kita. Oke bersiaplah menumbuhkan kreatifitas kita untuk mengekspresikan diri meraih sukses masa depan. Semangat!

Selasa, 18 Maret 2014

pembelajaran abad 21



PEMBELAJARAN ABAD 21
18 Maret 2014
Guru berada pada posisi kunci dalam pendidikan kita. Meskipun saat ini didengungkan pembelajaran  berpusat pada peserta didik,  namun posisi guru tetaplah yang utama dalam proses pembelajaran. Mengapa demikian? Karena peserta didik tidak dapat belajar sendiri tanpa bantuan dan bimbingan seorang guru, meskipun informasi dan pembelajaran sudah sangat mudah didapatkan.
Saat ini kita sudah masuk pada pembelajaran abad 21. Dimana ciri dari abad ini adalah informasi diperoleh dengan sangat mudah. Bahkan siapapun orangnya akan dapat mengakses informasi apapun, dimanapun dan kapanpun. Boleh dikatakan bahwa masa ini adalah milik generasi muda, guru hanyalah pendatang di dunia mereka. Menyadari hal ini maka dibutuhkan strategi yang mampu diterapkan pada dunia mereka yang sangat luar biasa. Tugas yang sangat berat bagi guru karena mengajar didunia generasi muda yang bisa jadi lebih update dari guru itu sendiri.
Salah satu solusinya adalah guru harus menjadi kreatif, profesional dan menyenangkan. Hal ini penting untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan.
Berikut ini sedikit informasi untuk rekan guru dalam menyelami pembelajaran abad 21.
Ada lima pendekatan pembelajaran yang bisa membantu untuk dapat mengajar dengan baik. Diantaranya yaitu dengan pendekatan kompetensi, pendekatan ketrampilan proses, pendekatan lingkungan, pendekatan kontekstual, dan pendekatan tematik.
a.      Pendekatan kompetensi
Kompetensi menunjuk pada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar. Beberapa hal yang mendasari penekatan kompetensi adalah; pertama adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual. Pembelajaran ini disesuaikan dengan kemampuan individual peserta didik. Kedua pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning), sistem pembelajaran yang tepat semua peserta didik akan dapat belajar dengan hasil yang baik dari seluruh bahan yang diberikan. Untuk itu perlu pengkondisian lingkungan belajar yang kondusif.  Ketiga adalah usaha penyusunan kembali definisi bakat. Hal ini berkaitan dengan waktu yang cukup bagi peserta didik untuk mencapai penguasaan suatu tugas belajar. Berikan kelonggaran waktu pada peserta didik dalam menyelesaikan tugas belajarnya, jika tidak selesai dikerjakan di sekolah beri peluang untuk menyelesaikan tugasnya di luar kelas. Dalam pembelajaran  dengan pendekatan kompetensi yang perlu diperhatikan yaitu menetapkan kompetensi yang ingin dicapai, mengembangkan strategi untuk mencapai kompetensi tersebut, dan adakan evaluasi.
b.      Pendekatan ketranpilan proses
Pendekatan ini merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktifitas, dan kreatifitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ketrampilan proses memperhatikan potensi peserta didik yang berbeda-beda, motivasi  yang diwujudkan dalam keaktifan peserta didik, pendayagunaan potensi yang dimiliki, suasana kelas yang mendukung, dan kemudahan belajar  yang diberikan guru melalui bimbingan dan motivasi untuk mencapai tujuan. Kegiatan yang mendukung hal tersebut  diantaranya adalah diskusi, pengamatan, penelitian, praktikum, tanya jawab, karyawisata, studi kasus, bermain peran, dan kegiatan kreatif lainnya yang menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.
  1. Pendekatan lingkungan
Pendekatan pembelajaran yang berusaha meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan akan menarik perhatian peserta didik karena diangkat dari lingkungan mereka sendiri sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaidah bagi lingkungannya.
Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti peserta didik mendapat pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri hal-hal yang ada disekitrnya. Secara konkrit pembelajaran ini dapat dilakukan dengan karyawisata atau study tour, dan atau membawa sumber belajar ke dalam kelas yang bentuk model ataupun narasumber.
  1. Pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual atau dikenal dengan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga mereka dapat menerapkan hasil pembelajaran di sekolah pada kehidupan sehari-hari. Pada pembelajaran ini guru tugasnya adalah memberikan kemudahan belajar dengan menyediakan fasilitas sarana prasarana dan sumber belajar yang memadai. Pembelajaran CTL menekankan pada proses belajar peserta didik bukan pada hasil yang diperoleh, serta menumbuhkan teamwork yang akan menjadi bekal mereka di kehidupan nyata.
  1. Pendekatan tematik
Pendekatan tematik atau pendekatan terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian pengalaman belajar, sehingga terjadi saling berhubungan satu dengan yang lainnya, dan berpusat pada sebuah pokok atau persoalan. Pendekatan ini biasanya diterapkan pada sekolah TK atau RA dan sekolah dasar yang membutuhkan penanaman karakter dan pengetahuan dasar peserta didik.
Pendekatan tematik lebih maksimal jika dilakukan dengan team teaching atau pembelajaran beregu. Pendekatan ini menuntut kreatifitas guru dalam memilih dan mengembangkan tema pembelajaran dan menyorotinya dari berbagai aspek.
            Dari uraian diatas dapat dipilih dan dikombinasikan pendakatan mana yang sesuai dengan kemampuan guru dan karakter peserta didik. Semoga apa yang kami sampaikan dapat menambah pengetahuan rekan-rekan  guru. Salam penuh semangat dalam mencerdaskan anak bangsa.