Jumat, 30 Januari 2015

pola sistem drapping

pola sistem drapping



Untuk mempelajari konstruksi pola sistem draping peserta diklat
diberikan konsep-konsep draping, sebagai berikut.
1. Pengertian Draping
a. Pengertian draping ditinjau dari proses kerjanya.
b. Perkembangan pola sistem draping.
2. Perbedaan pembuatan pola sistem draping dengan pola sistem konstruksi
ditinjau dari:
a. penggunaan bahan,
b. tempat mengerjakan,
c. bentuk pola, dan
d. hasil jadi pola.
3. Keuntungan pembuatan pola sistem draping ditinjau dari segi pengepasan
terhadap model.
4. Penggunaan alat dan bahan draping.
a. Pemilihan alat penunjang pembuatan pola draping.
b. Alasan pemilihan bahan pola draping.
5. Cara kerja pembuatan pola sistem draping, yaitu prosedur kerja secara
umum dalam membuat pola sistem draping, dari desain hingga pola siap
pakai.
1. Alat
a. Boneka Jahit (Dressform)
Ada bermacam-macam dressform/boneka jahit yang dapat digunakan
untuk membuat pola dasar, di antaranya dressform untuk wanita dewasa
meliputi: (1) dressform untuk membuat celana, (2) dressform anak-anak, (3)
dressform anak-anak remaja, (4) dressform wanita, (5) dressform wanita dalam
ukuran besar. (Lihat Gambar 1.1). Di samping itu ada dressform untuk pria.
b. pitajahit

c. penggaris

d. jarum jahit tangan

e. gunting kain

f. pensil


g. karbom jahit
2. Bahan
a. Blaco
Bahan utama pada pembuatan pola sistim draping adalah kain blaco.
Ada bermacam-macam jenis bahan blaco yang dapat dipergunakan sesuai
dengan disain baju.
1) Blaco kasar
Digunakan untuk pemula, karena sangat mudah mengetahui arah serat
kainnya.
2) Blaco ringan atau tipis
Digunakan untuk membuat draping dengan mode yang ditekankan pada
kelembutan bahan atau soft draping.
b. Tali Kord Pipih
Bentuk tali kord yang dapat digunakan adalah yang pipih dengan lebar
3-5 mm. Tali kord tersedia dalam beberapa warna. Pada umumnya tali merah
untuk pembuatan garis-garis vertikal (berdiri). Sedangkan untuk garis
horisontal (tidur) menggunakan pita biru. Untuk garis-garis pecah pola dapat
menggunakan warna yang lain. Lihat contoh tali kord pipih di bawah ini.
3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
a. Duduklah ketika mengerjakan draping, kecuali mengerjakan draping
pada bagian-bagian yang tinggi.
b. Sematan ujung jarum harus dimasukkan ke dalam.
c. Perhitungkan kebutuhan bahan secara teliti.
d. Sediakan kotak khusus sebagai perlengkapan draping.
Langkah Kerja
a. Perbedaan Pembuatan Pola Sistem Draping dengan Pembuatan Pola
Sistem Konstruksi
Perbedaan kedua sistem tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
No       Sistem           Sistem Draping                     Sistem Konstruksi
1.         Bahan             - Kain Blaco                           - Kertas pola
2.         Tempat           - Dressform/boneka jahit      - Meja datar
3.         Bentuk            - Tiga dimensi                        - Dua dimensi
4.         Hasil               - pola                                       - Pola dasar
- Pola siap pakai sesuai          - Pola dasar desain busana
 
Untuk membuat pola sesuai desain harus membuat pecah pola berdasarkan pola dasar
di atas.

b. Keuntungan Pembuatan Pola Sistem Draping
Keutungan pembuatan pola yang dikerjakan pada boneka jahit adalah
sebagai berikut.
1) Dapat melihat proporsi garis-garis desain pada tubuh.
2) Dapat melihat pas atau tidaknya pola tersebut pada tubuh.
3) Dapat melihat keseimbangan garis-garis desain pada tubuh.
4) Dapat melihat style busana.

Rabu, 22 Oktober 2014

MENGAJAR DENGAN METODE HUMOR



MENGAJAR DENGAN METODE HUMOR

Guru  merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam pencapaian keberhasilan pembelajaran di sekolah, di tangan guru terletak harapan segala perubahan peningkatan pengetahuan akademik, ketrampilan, kreatifitas dan sikap peserta didik. Guru ibarat magnet yang menarik dan mampu menjadi pusat perhatian peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar sehingga peserta didik merasa enjoy dalam setiap mengikuti pembelajaran di sekolah.
Oleh sebab itu untuk  mensukseskan pendidikan ditemukan berbagai model pembelajaran. Saat ini sudah banyak model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning/CTL, dimana CTL ini (ada 32 macam model CTL menurut Zainal Aqib dalam bukunya Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual(inovativ)),  merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antar materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan  yang dimilikinya dengan penerpannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Namun hal ini masih sangat perlu dimulai dengan motivasi yang tinggi. Dari hampir semua model CTL tersebut memiliki karakteristik menyenangkan dan tidak membosankan.
Pada kesempatan ini penulis memperkenalkan metode pembelajaran baru dengan nama Medel Humor.
Humor bukan perkara main-main, bukan sekedar lucu-lucuan yang diciptakan sambil lalu, justru humor perkara serius yang untuk menghasilkannya perlu pemikiran serius dan modal kreatifitas tinggi.
Sebagai karya yang serius, humor tentu bermanfaat, diantaranya membuat orang santai dan bersahabat, meredakan kericuhan dan konflik, bahkan mampu meredakan amarah. Dan perhatikanlah tidak ada orang yang berkelahi sambil tertawa. Kalaupun ada hanya pada tayangan sinetron saja. Humor mampu menjadi obat yang mengurangi rasa sakit secara misterius. Humor juga mampu membantu orang untuk memahami sesuatu, meningkatkan komunikasi dan mampu mencetuskan motivasi kebersamaan. Humor menyebarkan kebahagiaan dan yang pasti dengan humor mampu mengasah kreatifitas seseorang.
Melihat sisi kesaktian humor, maka dapat didayagunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik. Dalam KBM (kegiatan belajar mengajar), humor menjadi “bumbu penyedap” yang mampu meningkatkan “nafsu makan” para peserta didik.
Guru yang peka dan kreatif tentu tidak akan menyia-nyiakan ha ini untuk menebarkan humor di dalam kelasnya. Bukankah mengajar termasuk seni, dan setiap guru adalah seniman dalam bidangnya. Guru dapat mengembangkan bakat seninya dengan menyisipkan humor  dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga peserta didik tidak bosan dengan materi yang disampaiakan.
Penyampaian materi dengan metode humor ini akan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, meningkatkan keakraban antar teman, hubungan guru dengan murid lebih menyenangkan. Dengan menyenangi guru yang mampu berhumor tentu saja akan menyukai mata pelajaran yang diampunya, cepat memahami dan menangkap materi pelajaran, mengesankan, serta materi pelajaran akan  tersimpan dalam ingatan, serta mampu membuat peserta didik betah dan senang di sekolah.
Namun, guru tidak boleh sembarangan melempar humor di dalam kelas. Humor di kelas sangat berbeda dengan humor lawakan di panggun. Humor di kelas harus menyatu dengan materi yang sedang diajarkan. Penyampian humor jangan semata-mata namun tanpa disadari oleh peserta didik dan mereka tahu-tahu tergelitik dan tertawa. Humor harus sopan artinya tidak menyinggung perasaan dan vulgar. Hindari penyampaian humor pada peserta didik yang sama dan berulang-ulang, hal ini akan menimbulkan kebosanan dan ketidak senangan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak semua humor itu mengundang tawa, sebab tidak semua humor lucu. Jangan dianggap bahwa humor itu selalu lucu dan wajib ditertawakan,  sama dengan anggapan bahwa semua peserta didik itu pintar. Hilangkan pengertian tersebut dan mulailah dengan memikirkan hal-hal baru /segar untuk bahan humor di depan kelas.
Kenyataan bahwa humor bisa sama sekali tidak lucu (jika tidak dimengerti maknanya), humor bisa membosankan (jika diulang-ulang), humor bisa menjengkelkan (jika menyinggung perasaan), humor bisa menimbulkan amarah (jika bernada mengejek), bahkan humor dapat menyulut dendam (jika bermaksud melecehkan).
Humor yang ditebar di dalam kelas harus dipertimbangkan. Humor akan dikatakan baik dan mempunyai daya dukung pembelajaran jika tepat bahan, tepat sasaran, tepat waktu, tepat situasi, dan tepat cara penyampaiannya. Dosis humor dalam kegiatan belajar mengajar harus tepat sehingga tidak akan terjadi ger-geran selama pelajaran berlangsung, namun “bumbu humor” dapat menyegarkan KBM dan mampu membuat peserta didik bersemangat dalam menuntut ilmu. Semoga berhasil, amin.