Rabu, 13 Maret 2013

penggunaaajarn teknologi informasi dalam kegiatan belajar meng


PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Indria Mustika 0102512084
Manajemen Pendidikan S2, konsentrasi kepengawasan

Abstrak
Perkembangan teknologi informasi saat ini sudah sangat cepat. Penyimpanan dan pengiriman data semakin murah dan baik kualitasnya. Bahkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, sudah saatnya memanfaatkan teknologi informasi tersebut. Penggunaan alat bantu atau media sangat membantu kegiatan proses belajar mengajar di kelas, baik teori maupun praktik, dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Teknologi informasi ini akan memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran.  Apalagi dengan adanya program school net, jardiknas dan sebagainya, maka seluruh komponen lembaga pendidikan dituntut menyiapkan diri dengan menyiapkan sarana prasarana untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi tersebut. Secara implisit dan eksplisit IT tidak sekedar berupa teknologi komputer, tetapi juga mencakup teknologi komunikasi. Dengan kata lain, yang disebut Teknologi Informasi adalah gabungan antara Teknologi Komputer dan Teknologi Telekomunikasi. Pemanfaatan teknologi pendidikan yang tidak mengikuti perkembangan jaman akan ditinggalkan oleh peserta didik yang tidak menutup kemungkinan mereka  justru lebih dulu mengikuti perkembangan teknologi informasi di luar sekolah. Dengan demikian guru dituntut untuk lebih kreatif dan meningkatkan kompetensi dalam strategi mengajar yang lebih menarik dibandingkan dengan kegiatan di luar sekolah. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi memerlukan kompetensi yang sesuai dengan jenis media yang digunakan. 

Kata kunci ; teknologi, informasi, pendidikan.

  1. Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai ciri eksponensial yaitu semakin lama semakin cepat, karena hasil dari suatu tahap menjadi dasar dan alasan bagi tahap selanjutnya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran, yaitu:
1. dari pelatihan ke penampilan,
2. dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja,
3. dari kertas ke “on line” atau saluran,
4. dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja,
5. dari waktu siklus ke waktu nyata

Tuntutan fasilitas yang berkembang dalam masyarakat saat ini menuju pada teknologi informasi. Itu sebabnya teknologi informasi butuh dikenalkan kepada peserta didik sejak dini. Ini bertujuan agar peserta didik seusai lulus sekolah , tidak kaget dengan teknologi informasi yang berkembang dengan pesat. Pengenalan teknologi informasi ini bisa dilakukan dengan pemakaian teknologi informasi di lingkungan sekolah. Lebih mengena jika dalam sebuah pembelajaran menggunakan teknologi informasi ini. Selain hasil pembelajaran yang diperkirakan baik , peserta didik bisa mengenal dan tidak takut dengan teknologi informasi. Dengan pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional, sebagaimana dituntut oleh  teknologi pendidikan, tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai.
Upaya yang dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan itu adalah dengan jalan memanfaatkan teknologi pendidikan atau mengelola pendidikan, khususnya proses belajar mengajar melalui pendekatan teknologis.
Dewasa ini perkembangan dan kemajuan teknolgi informasi berjalan sangat cepat. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, penyimpanan dan pengiriman data semakin murah dan semakin baik kualitasnya. Baik individu, institusi, maupun pemerintah ikut melakukan berbagai upaya untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi ini. Bahkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, sudah saatnya kita memanfaatkan teknologi informasi tersebut. Penggunaan alat bantu atau media sangat membantu kegiatan proses belajar mengajar di kelas, baik teori maupun praktik, dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Apalagi dengan adanya program school net, jardiknas dan sebagainya, maka seluruh komponen lembaga pendidikan dituntut menyiapkan diri dengan menyiapkan sarana prasarana untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi tersebut. Teknologi informasi ini akan memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan semakin tingginya kebutuhan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak semuanya diperoleh dalam lingkungan sekolah. Demikian pula pada saat melakukan pertukaran data dan informasi antar sekolah, sekolah dengan masyarakat, sekolah dengan pemerintah daerah dan pusat, dan lain-lain, semuanya akan lebih efektif dan efisien jika memanfaatkan teknologi informasi.
Proses belajar mengajar yang konfensional kurang begitu menarik. Proses belajar mengajar yang kurang menarik akan menurunkan minat dan motivasi. Tentu saja akan berdampak pada prestasi belajar peserta didik dalam belajar.
Pemanfaatan teknologi pendidikan yang tidak mengikuti perkembangan jaman akan ditinggalkan oleh peserta didik yang tidak menutup kemungkinan mereka  justru lebih dulu mengikuti perkembangan teknologi informasi di luar sekolah. Dengan demikian guru dituntut untuk lebih kreatif dan meningkatkan kompetensi dalam strategi mengajar yang lebih menarik dibandingkan dengan kegiatan di luar sekolah. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi memerlukan kompetensi yang sesuai dengan jenis media yang digunakan.  

  1. Pembahasan
Untuk mengetahui pengertian teknologi informasi  terlebih dahulu kita harus mengerti pengertian dari teknologi dan informasi itu sendiri. Berikut ini pengertian teknologi  adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sedangkan informasi adalah hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian/penataan dari sekelompok data yang mempunyai nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya. 
Pengertian teknologi informasi menurut beberapa ahli teknologi informasi : 
  1. Teknologi Informasi adalah studi atau peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan, menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata-kata, bilangan, dan gambar (kamus Oxford, 1995)  
  2. Teknologi Informasi  adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi (Haag & Keen, 1996)  
  3. Teknologi Informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (software & hardware) yang digunakan untuk memproses atau menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi (Martin, 1999)  
  4. Teknologi Informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis (Lucas, 2000)  
  5. Teknologi Informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video (William & Sawyer, 2003)
Secara implisit dan eksplisit IT tidak sekedar berupa teknologi komputer, tetapi juga mencakup teknologi komunikasi.Dengan kata lain, yang disebut Teknologi Informasi adalah gabungan antara Teknologi Komputer dan Teknologi Telekomunikasi
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Dalam kaitannya dengan pendidikan pada proses pembelajaran, TIK khususnya internet dapat dimanfaatkan oleh guru maupun siswa, antara lain: dalam pencarian informasi atau bahan pelajaran, mendekatkan jarak ruang dan waktu dalam interaksi guru-murid, efisiensi pembelajaran serta penyimpanan berbagai data dan informasi yang diperlukan.
Pengaruh Teknologi Informasi di Dunia Pendidikan
Seorang guru akan dengan mudah mencari bahan ajar yang sesuai dengan bidangnya dan juga seorang siswa dapat mendalami ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan didukung kemampuan untuk mencari informasi tambahan diluar yang diajarkan oleh guru. Demikian pula masyarakat ( wali murid, Dewan pendidikan dan komite sekolah ) juga dapat memberikan masukan dan mengontrol sekolah dalam memilih dan menggunakan buku pendidikan yang berkualitas. Dengan demikian akan terjadi perubahan pola pikir serta kreatifitas guru dan siswa serta masyarakat dapat berkembang dengan pesat , sehingga terjadi Cakrawala berpikir yang lebih kontektual dan lebih mudah mencerna informasi yang masuk tersebut. Bahkan dalam lingkup pendidikan, sudah saatnya dibentuk suatu jaringan informasi yang memanfaatkan teknologi informasi ini. Dengan demikian terdapat suatu jaringan terhubung antar sekolah sebagai pertukaran data dan informasi secara cepat, akurat dan tentunya murah dalam segala bidang. Penyebaran ide maupun metode pembelajaran dalam proses pembelajaran yang lebih tepat pun akan lebih mudah sampai kepelosok daerah yang selama ini mengalami kesulitan untuk menerima informasi terkini.Adapun kendala yang masih dihadapi di Indonesia aalah jangkauan jaringan telekomunikasi yanmg masih terbatas. Infrastruktur ini masih menjadi kendala besar bagi lingkungan pendidikan dalam memanfaatkan jaringan teknologi informasi. Dalam pembangunan jaringan informasi interkoneksi akan membutuhkan jaringan penghubung yang dikenal dengan LAN/WAN/Internet.
Kendala lain adalah faktor biaya, baik biaya perangkat keras maupun perangkat lunak. Pada umumnya sekolah-sekolah yang memiliki laboratorium komputer punya nilai plus bagi orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya. Secara umum hampir sebagian besar sekolah-sekolah untuk daerah perkotaan telah memiliki laboratorium tersebut , baik itu jaringan intranet mapun internet. Memanfaatkan internet dalam pelajaran merupakan salah satu sumber pelajaran baik bagi siswa maupun guru. Menurut Earlyanti , komputer yang terakses keinternet merupakan kebutuhan pokok. Pembelajaran akan lebih efisien dan efektif sehingga siswa tidak tertinggal dalam mendapatkan informasi terkini yang tidak dapat diperoleh dari guru dikelas. Bahkan guru dipacu untuk tidak tertinggal dari siswanya.Untuk itu saat ini sangat tepatlah jika diruang guru disediakan seperangkat komputer yang yang telah terakses dengan jaringan teknologi informasi atau dikenal dengan Internet. Bahkan penugasan siswa dapat dilakukan melalui jaringan internet. Memang , untuk itu diperlukan biaya yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan baik pihak sekolah maupun siswa. Akan tetapi , dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh , pemanfaatan jaringan internet tampaknya harus sudah masuk sebagai sumber belajar yang perlu diperhitungkan.
Bagi guru jaringan Informasi Internet menawarkan beberapa kesempatan untuk diraih,seperti;
  • Meningkatkan pengetahuan.
  • Berbagi sumber diantara rekan seprofesi.
  • Bekerja sama dengan guru di luar negeri.
  • Berpartisipasi dalam forum pendidikan baik regional maupun internasional
  • Mencari sumber bahan ajar.
  • Mencari metode belajar baru.
Sedangkan bagi siswa Jaringan Informasi Internet menawarkan kesempatan untuk:
  • Meningkatkan pengetahuan.
  • Meningkatkan kepekaan akan permaslahan yang ada diseluruh dunia.
  • Meningkatkan komunikasi dengan siswa lain baik di dalam maupun di luar negeri.
  • Mengembangka kemampuan di bidang penelitian.
  • Sebagai media praktek ilmu yang didapatkan di sekolah.
Aplikasi teknologi pendidikan sangat relevan bagi pengelolaan pendidikan pada umumnya dan kegiatan belajar mengajar pada khususnya. Penerapan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas sangat variatif tergantung kreatifitas guru yang bersangkutan. Banyak pilihan media yang  dapat digunakan. Semisal dalam mata diklat Kompetensi Kejuruan pada kompetensi Gambar Busana dapat menggunakan media audio visual untuk memutarkan kegiatan peragaan busana pada saat even tertentu. Dengan memutarkan vidio tersebut sudah pasti akan mampu meningkatkan motivasi belajar dan prestasi peserta didik. Pada saat melihat fashion show lewat vidio maka minat peserta didik dalam hal mendisain busana dan mewujudkannya dalam karya busana menjadi tinggi.
Pada saat melihat sebuah karya busana diperagakan dengan  menarik dan sempurna maka akan meningkatkan motivasi belajar dalam hal disain, dan menumbuhkan tekad yang kuat untuk dapat menjadi seperti yang dilihat pada tayangan video tersebut. Pada  Nasution  2008 disebutkan beberapa keuntungan film yaitu baik untuk menjelaskan proses suatu kejadian, dapat diterima oleh peserta didik yang pandai maupun tidak, menjelaskan peristiwa-peristiwa masa lalu secara kritis dan singkat, dan dapat diulang jika diperlukan. Selain menayangkan video peragaan, dapat juga memanfaatkan internet dalam memotivasi peserta didik dalam menambah reverensi dan pengetahuan tentang disain dan busana. Memanfaatkan internet pada jejaring sosial FB maupun twiter dalam memberikan tugas dan mengarahkan minat peserta didik dalam menulis yang berkualitas. Dengan demikian akan dapat mengarahkan kesenangan anak-anak ke arah yang positif. Karena perkembangan teknologi, dapat membantu guru dalam proses belajar mengajar dengan cepat, menyenangkan dan terarah.

  1. Penutup
Tuntutan fasilitas yang berkembang dalam masyarakat menuju pada teknologi informasi. Itu sebabnya teknologi informasi butuh dikenalkan kepada peserta didik sejak dini. Ini bertujuan agar peserta didik seusai lulus sekolah , tidak kaget dengan teknologi informasi yang berkembang dengan pesat. Pengenalan teknologi informasi ini bisa dilakukan dengan pemakaian teknologi informasi di lingkungan sekolah. Lebih mengena jika dalam sebuah pembelajaran menggunakan teknologi informasi ini. Selain hasil pembelajaran yang diperkirakan baik , peserta didik bisa mengenal dan tidak takut dengan teknologi informasi. Dengan pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional, sebagaimana dituntut oleh  teknologi pendidikan, tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai.
Upaya yang dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan itu adalah dengan jalan memanfaatkan teknologi pendidikan atau mengelola pendidikan, khususnya proses belajar mengajar melalui pendekatan teknologis.
Alat-alat teknologi yang beragam mempengaruhi gaya dan metode dalam kegiatan belajar mengajar, semua disesuaikan dengan kemampuan guru dalam memanfaatkanya. Setiap alat pendidikan mempunyai kekurangan dan kelebihan, tergantung bagaimana pemilihan dan nenggabungkannya agar tercapai tujuan dengan optimal.


Daftar pustaka
Danim, Sudarwan. 2008.  Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution. 2008. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
http://www.esaunggul.ac.id/artikel/pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pengajaran di indonesia. Tanggal 11 Maret 2013 jam 10.55wib.



Sabtu, 19 Januari 2013

perilaku kepemimpinan model path goal




 





















PERILAKU KEPEMIMPINAN MODEL PATH GOAL



BAB 1
PENDAHULUAN

Kehidupan ini sudah ada ketentuannya, meskipun demikian tidaklah boleh memasrahkan segala sesuatunya begitu saja. Tanpa berusaha dan tanpa memiliki harapan yang disertai dengan semangat serta motivasi untuk berkembang dan membuat gambaran untuk masa depan. Dengan harapan, kita akan memiliki semangat berjuang dalam kehidupan. Kadang kala kita memerlukan orang lain untuk membangkitkan motivasi dan semangat, karena hal itu belum muncul, sehingga kita mencari orang yang tepat untuk hal ini. Tokoh-tokoh yang dianggap karismatik dan sukses, didekati untuk memperoleh nasihat dan pencerahan. Sukses disini adalah dalam memimpin suatu kelompok atau masyarakat. Karismatik dapat diperoleh melalui istiqomah atau keajegan dari suatu aktifitas baik. Pemimpin tipe karismatik ini pada umumnya memiliki kewibawaan yang sangat besar terhadap pengikutnya. Kewibawaan memancar dari pribadinya,yang dibawanya sejak lahir. Pemimpin ini biasanya memiliki kekuatan supranatural, dari penampilannya memancarkan kewibawaan yang menyebabkan pengikutnya merasa tertarik dan kagum serta patuh. Contoh beberapa pemimpin karismatik diantaranya adalah Iskandar Zulkarnaen, J.F. Kennedy, Soekarno dan Gandhi. (Rivai.2012).
 Memimpin merupakan suatu kegiatan yang terus-menerus, mengelola sumber daya, mengelola perasaan anggota/karyawan, mengelola sikap dan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu kepemimpinan yang diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi yang berbeda dan kadang berubah-ubah, karena jika ajeg/sama modelnya maka hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.  Seorang pemimpin diharapkan mampu mempengaruhi semua aspek dalam organisasi.
Seorang pemimpin belum tentu seorang manajer. Pada uraian diatas adalah pemimpin kelompok. sedang yang akan kita bahas di makalah ini adalah pemimpin dalam manajemen. Berarti pemimpin yang manajer.  Kepemimpinan adalah subyek yang paling penting untuk manager, karena peran kritis yang dimainkan oleh pemimpin adalah efektifitas kelompok dalam organisasi. Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan aktifitas yang berkaitan dengan tugas, seperti;  menegakkan disiplin, melaksanakan tugas dengan benar, mengarahkan kelompok dan memberikan motivasi. Sedangkan manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Melihat  keadaan ini, dari berbagai teori kepemimpinan, yang paling tepat adalah teori kepemimpinan Situasional.
         Pada kesempatan ini penulis hendak membahas perilaku kepemimpinan dalam manajemen yang terdapat dalam kepemimpinan situasional dengan gaya Path Goal.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Arti Kepemimpinan

Pemimpin di suatu organisasi, memiliki posisi yang dominan dalam menentukan maju mundurnya suatu perusahaan/organisasi. Kinerja yang dihasilkan oleh suatu perusahaan/organiasi gambaran  kepemilikan hasil yang diberikan oleh pemimpin yang mengelola perusahaan/organisasi tersebut.dan stakeholders terbiasa menjadikan kinerja sebagai salah satu ukuran dalam mendukung pengambilan keputusan. Seorang pemimpin yang baik adalah yang mampu mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki dan mampu memberikan keuntungan serta kepuasan kepada stakeholders.  Seorang pemimpin harus memahami tentang kepemimpinan.
       Kepemimpinan berasal dari kata pimpin artinya tuntun, bimbing yang mendapatkan imbuhan ke-an yang artinya menjadi perihal memimpin, cara memimpin. Dalam Ensiklopedia Umum halaman 549, kepemimpinan diartikan sebagai hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusia karena adanya kepentingan bersama, hal itu ditandai oleh tingkah laku yang tertuju dan terbimbing dari manusia yang satu itu yang disebut pemimpin atau yang memimpin.
       Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1083:123), menurut Robbins (2002:163) Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Menurut Ngalim Purwanto (1991: 26) Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan  dan sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya  kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
       Kepemimpinan adalah sebagai kemampuan seseorang atau pemimpin untuk mempengaruhi perilaku orang lain menuju keinginan-keinginannya dalam suatu keadaan tertentu atau dengan kalimat lain bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Dalam (Irfan.2012), kepemimpinan merupakan ilmu yang mengkaji secara komprehensif tentang bagaimana mengarahkan, mempengaruhi, dan mengawasi orang lain untuk mengerjakan tugas sesuai dengan perintah yang direncanakan.
Apa yang diharapkan seorang pemimpin/manajer dari orang-orang bawahannya dan cara ia memperlakukan mereka, sangat menentukan pekerjaan mereka serta kemajuan kariernya. Seorang manajer diharapkan mampu menciptakan harapan-harapan besar mengenai pekerjaan yang dipenuhi orang-orang bawahan. Pemimpin yang kurang semangat/giat akan gagal untuk terus mengembangkan harapan-harapan anggota organisasi tersebut sebagai akibatnya produktifitas bawahannya akan terganggu.
Dalam mengembangkan dan memajukan suatu orgnisasi manajer dengan pengaruh kepemimpinan yang dimilikinya berkewajiban untuk memahami perilaku setiap karyawan yang berada di lingkungan kerjanya. Karena itu dalam mewujudkan suatu perilaku yang diinginkan oleh konsep manajemen maka seorang manajer mengharuskan untuk mempergunakan kekuatannya. Kekuatan legitimasi, penghargaan, dan koesif adalah bentuk dari kekuatan jabatan yang digunakan manajer untuk mengubah perilaku karyawan.
Ketiga kekuatan tersebut dijelaskan oleh Richard (2003),berikut;
1.      Kekuatan legitimasi (legitimate power), kekuatan yang berasal dari posisi manajemen formal dalam sebuah organisasi dan otoritas yang diberikan padanya.
2.      Kekuatan penghargan (reward power), berasal dari otoritas untuk memberi penghargaan kepada orang lain.
3.      Kekuatan koesif (coercive power), kebalikan kekuatan penghargaan adalah kekuatan koesif, ini mengacu pada otoritas untuk menghukum atau merekomendasikan hukuman.
Dengan ketiga bentuk kekuatan tersterebut diatas maka pihak manajer berusaha untuk mengelola berbagai perilaku karyawan agar tercapai ketaatan dalam bekerja. Ketaatan berarti bahwa pekerja akan mengindahkan perintah dan melaksanakan instruksi, sekalipun secara pribadi mereka tidak setuju dan tidak antusias. Karena yang harus dihindari oleh pihak manajer adalah para karyawan melakukan penghindaran pekerjan dengan alasan-alasan yang tidak jelas atau sesuatu yang tidak bisa diterima oleh logika konsep pekerjaan. Ini disebut resistensi, yang berarti bahwa pekerja akan secara sengaja berusaha untuk menghindari pelaksanaan instruksi atau akan mencoba untuk tidak mengindahkan perintah.
            Seorang pimpinan dalam mengarahkan para karyawan dalam melaksanakan pekerjaan tidak hanya harus dilakukan atas dasar perintah dan sanksi yang akan diterima, namun seorang pemimpin juga harus mengedepankan sikap kewibawaan yang teraplikasi dalam bentuk personal power yang dimilikinya. Personal power atau kekuatan pribadi ini tidak lahir begitu saja, namun melalui proses yang panjang. Dalam arti tidak mungkin seorang pemimpin bisa bijaksana jika tidak merasakan apa yang sesungguhnya dialami oleh bawahannya. Banyak pendapat bahwa sebaiknya seorang pemimpin adalah yang berasal  dari bawah di perusahaan tersebut atau mereka memulai pekerjaan dari posisi bawah dan dalam proses yang panjang menjalani dengan penuh kesabarana  serta keyakinan hingga akhirnya sukses mendapatkan posisi yang diinginkan.
Bawahan mengkuti pemimpin karena rasa hormat, kekaguman, atau rasa sayang mereka atas sosok pemimpin secara pribadi atau ide-ide pemimpin. Pemimpin lebih dihormati dan dikagumi karena kepemilikan karakter, bukan karena jabatan.
            Seorang pemimpin mempengaruhi para bawahannya berdasarkan;
  1. Coersive power (kekuasaan berdasarkan paksaan), kekuatan ini berdasarkan atas rasa takut dan berlandakan perkiraan pihak bawahan bahwa ia akan dikenakan hukuman bila tidak menyetujui tindakan-tindakan dan keyakinan atasan.
  2. Reward power (kekuatan untuk memberikan kekuatan), pemimpin dapat memberikan penghargaan kepada bawahan, jika melakukan tindnan akan yang sesuai keinginan atasan.
  3. Legitimate power (kekuatan yang sah),kekuatan ini timbul dari posisi supervisor di dalam organisasi bersangkutan.
  4. Expert power (kekuatan karena keahlian), kekuatan ini timbul karena seseorang individu memiliki ketrampilan tertentu, pengetahuan atau menerapkan keahiannya dalam bidang tertentu.
  5. Kekuatan referen, didasarkan atas identifikasi seorang pengikut dengan seorang pemimpin yang sangat dihormati dan terpandang oleh pengikut tersebut.
Kegagalan dalam menemukan konsep tentang kepemimpinan yang bersifat universal yang terfokus pada sifat dan perilaku seorang pemimpin, melahirkan pendekatan baru dalam kepemimpinan. Keyakinan dasar dari pendekatan perilaku kontigensi adalah perilaku pemimpin yang efektif pada situasi tertentu belum tentu efektif dalam situasi yang lainnya. Artinya keefektifan seorang pemimpin tergantung (kontigen) pada situasi organisasi dan bukan sebaliknya bahwa perilaku yang efektif pada satu situasi akan efektif juga pada situasi lainnya. Pendekatan kontigensi ini menegaskan bahwa sesuatu hal tergantung pada hal lainnya sehingga untuk menjadi pemimpin yang efektif harus ada kecocokan antara perilaku pemimpin dan gaya pemimpin pada kondisi dan situasi di dalam organisasi. Gaya kepemimpinan yang efektif  pada situasi tertentu mungkin tidak  akan  efektif pada situasi yang lain sehingga pendekatan kontigensi ini menekankan ketergantungan sesuatu hal dengan sesuatu hal lainnya.
Adapun yang termasuk dalam jenis kepemimpinan kontigensi situasional ini adalah;
1.      Model Kontingensi Fiedler,
2.      Model Partisipasi Pemimpin Vroom-Jago
3.      Model Kepemimpinan Jalur-Tujuan (Path-Goal Theory)
4.      Model Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard
Dalam makalah ini penulis memilih untuk membahas model kepemimpinan Path Goal dengan perilaku kepemimpinan dalam menejemen yang dapat diterapkan sesuai kondisi di Indonesia.

B.     Penjelasan mengenai model Kepemimpinan Jalur Tujuan/Path Goal Theory
       Kepemimpinan pada model Jalur Tujuan ini menerangkan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi motivasi dan prestasi kerja bawahannya, dalam situasi kerja yang berbeda-beda. Teori ini memusatkan perhatian pada cara pemimpin mempengaruhi prestasi kerja bawahan tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalan meraih tujuan.
Dasar dari teori ini adalah teori motivasi harapan (expectancy theory) yang menyatakan bahwa motivasi seseorang tergantung pada harapan akan imbalan dan valensi atau daya tarik imbalan tersebut.
Penekanan disini adalah kemampuan pemimpin untuk memberikan imbalan dan menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh bawahan untuk memperoleh imbalan itu.
Pokok-pokok penting dalam teori Path Goal adalah;
1.      Pemimpin memenuhi kebutuhan bawahan yang berkenaan dengan efektivitas pekerjaan
2.      Pemimpin memberikan latihan, bimbingan dan dukungan yang dibutuhkan oleh bawahannya
Menurut Safaria (2012), teori ini menekankan tanggung jawab pemimpin untuk meningkatkan motivasi karyawan agar tujuan personal dan organisasi tercapai.
Path Goal berusaha meramalkan efektifitas kepemimpinan dalam berbagai situasi, pemimpin menjadi efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positiv, kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya. Diberi nama Path Goal karena memfokuskan pada bagaimana pemimpin mempungaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri dan jalan untuk menghadapi tujuan.
Teori pengharapan (expentanci theory) menjelaskan bagaimana sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh hubungan antara usaha dan prestasi (Path Goal) dengan valensi dari hasil (Goal attractiveness). Individu akan memperoleh kepuasan dan produktif ketika melihat adanya hubungan kuat antara usaha dan prestasi yang mereka lakukan dengan hasil yang mereka capai dengan nilai tinggi. Pemimpin yang efektif yang membantu bawahan mengikuti cara untuk mencapai hasil yang bernilai tinggi.
Teori path Goal menekankan tanggung jawab pemimpin untuk meningkatkan motivasi bawahan dengan cara
Teori Path Goal, menganjurkan pemimpin terdiri dari 2 fungsi dasar:
1.      Memberi kejelasan alur.
Seorang pemimpin harus mampu membantu bawahannya dalam memahami bagaimana cara kerja yang diperlukan dalam menyelesaikan tugasnya
2.      Meningkatkan jumlah hasil (reward)
Bawahannya memberi dukungan dan perhatian terhadap kebutuhan pribadi mereka
Dalam membentuk fungsi tersebut, pemimpin dapat mengambil berbagai gaya kepemimpinan.
Empat gaya kepemimpinan yang di jelaskan dalam Path Goal
1.      Kepemimpinan pengarah (directive leadership). Digambarkan sebagai pemimpin yang menunjukkan dominasi  dalam mengarahkan, mengawasi, dan mengatur bawahan secara ketat seperti apa yang harus bawahan kerjakan, bagaimana caranya, kapan, dimana, dan sebagainya. Perilaku pemimpin lebih banyak membuat perencanaan, jadwal kerja, menetapkan tujuan kinerja, dan standart perilaku bawahan, serta menekankan pada pemenuhan terhadap aturan dan peraturan yang ada di dalam organisasi.
2.      Kepemimpinan pendukung (supportive leadership). Pemimpin bersifat ramah dan menunjukkan kepedulian akan kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan bawahan. Ia juga memperlakukan semua bawahan sama dan menunjukkan tentang keberadaan mereka, status, dan kebutuhan-kebutuhan pribadi. Sebagai usaha untuk mengembangkan  hubungan interpersonal yang menyenangkan diantara kelompok. Kepemimpinan model ini memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerja bawahan pada saat mereka mengalami frustasi dan kekecewaan. Kepemimpinan suportif ini mempunyai kesamaan dengan gaya pemimpin yang berorientasi pada orang atau hubungan.
3.      Kepemimpinan partisipatif (partisipative leadership). Pemimpin model ini tidak segan-segan berkonsultasi dengan bawahan dan menggunakan saran-saran serta ide-ide mereka sebelum mengambil suatu keputusan.  Perilaku pemimpin yang muncul termasuk menanyakan opini dan saran dari bawahan, mendorong partisipasi dalam membuat keputusan dan banyak berdiskusi dengan bawahan, hal ini dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan. Kepemimpinan ini mempunyai kesamaan dengan gaya kepemimpinan partisipatif pada teori kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard.
4.      Kepemimpinan berorientasi prestasi ( achievement oriented leadership). Gaya ini seorang pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan untuk berprestasi seoptimal mungkin serta terus menerus mencari pengembangan prestasi dalam proses pencapaian tujuan tersebut. Perilaku pemimpin jenis ini termasuk menekankan kinerja berkualitas tingi dan peningkatan kinerja di masa depan. Pemimpin jenis ini percaya pada bawahannya dan memberikan bimbingan kepada mereka untuk mencapai tujuan tertingi.
 Oleh Keempat gaya di atas merupakan tipe-tipe perilaku yang dapat diamati secara objektif dan dapt diadopsi oleh pemimpin. Selain empat gaya pemimpin teori Path Goal juga menjelaskan dua kontigensi situasional yang akan mempengaruhi pemimpin yaitu;
  1. Karakteristik dari bawahan
Karakter pribadi dari bawahan pada teori ini sama dengan tingkat kesiapan dan kematangan bawahan atau kelompok. Karakteristik tersebut mencakup apakah bawahan memiliki kemampuan, keahlian, ketrampilan, keyakinan dirindan motivasi tinggi. Jika rendah maka pemimpin melakukan pelatihan, pengarahan secara langsung dan pemberian hadiah untuk bawahan.
Karakteristik pribadi dari bawahan sama dengan tingkat kesiapan dan kematangan bawahan. Hal ini menyangkut dengan tingkat kemampuan;
·         R1 yaitu tidak mampu dan tidak bersedi atau tidak yakin
·         R2 yaitu tidak mampu tapi bersedia atau yakin
·         R3 yaitu mampu tapi tidak bersedia atau tidak yakin
·         R4 yaitu mampu dan bersedia atau yakin
  1. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja mencakup tingkat struktur tugas, sistem wewenang formal yang ada dan kelompok kerja. Tingkat struktur tugas mencakup apakah tugas mempunyai definisi, deskripsi pekerjaan, dan prosedur kerja yang jelas. Sistem wewenang formal mencakup jumlah kekuasaan yang digunakan pemimpin sertaapakah kebijakan dan aturan membatasi perilaku bawahan. Karakteristik kelompok kerja mencakup tingkat pendidikan bawahan dan kualitas hubungan diantara bawahan. Karakteristik kelompok kerja mencakup tingkat pendidikan bawahan dan kualitas hubungan diantara bawahan.
Jika situasi yang dihadapi pemimpin adalah ketidak mampuan bawahan atas hadiah yang diberikan oleh atasan, maka pemimpin harus mengadopsi gaya kepemimpinan partisipatif. Dengan gaya ini pemimpin mendengarkan dan mengajak bawahannya untuk menentukan  jenis hadiah seperti apa yang diinginkan. Apakah hadiah yang bersifat intrinsik seperti tantangan kerja, atau hadiah ekstrinsik seperti pemberian bonus, promosi, atau tunjangan kesejahteran.
            Penerapan teori Path Goal ini bagi seorang pemimpin adalah dengan memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut;
  1. Pemimpin harus memahami apa yang diinginkan bawahannya dan berusaha untuk merangsang bawahan mencapai kebutuhan tersebut, melalui regard yang disediakan pemimpin.
  2. Pemimpin meningkatkan hadiah bagi bawahannya ketika berhasil mencapai tujuan kerjanya.
  3. Pemimpin harus berusaha sekeras mungkin untuk menyediakan jalur yang mudah bagi bawahan untuk mencapai tujuan kinerjanya dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang maksimal.
  4. Menolong bawahan mengklarifikasikan harapan-harapannya. Hal ini dilakukan  agar tidak memiliki harapan yang terlalu tinggi sehinga tidak mungkin dicapainya.
  5. Pemimpin harus berusaha untuk mengurangi hambatan yang menimbulkan frustasi bagi proses tujuan kinrja bawahan.
  6. Pemimpin harus berusaha untuk meningkatkan kesempatan bawahan merasakan kepuasan pribadi melalui pencapaian kinerja yang efektif (Luthans.1995).
Jika keenam prinsip diatas  bisa dipenuhi oleh pemimpin  dapat dipastikan bahwa bawahan akan lebih mudah mencapai tujuan kinerja secara efektif.
Dengan menggunkan gaya kepemimpinan tersebut, pemimpin harus berusaha untuk mempengaruhi persepsi para karyawan/bawahannya dan mampu memberikan motivasi, dengan cara mengarahkan mereka pada kejelasan tugas-tugasnya, pencapaian tujuan, kepuasan kerja dan pelaksanaan kerja yang efektif.
       Model kepemimpinan jalur tujuan menyatakan pentingnya pengaruh pemimpin terhadap persepsi bawahan, mengenai tujuan kerja, tujuan pengembangan diri dan jalur pencapaian tujuan. Dasar dari model ini adalah teori motivasi eksperimental. Model ini di populerkan oleh Robert Hause yang berusaha yang berusaha memprediksi ke-efektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi.Teori ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja para bawahan.
       Menurut teori ini ada dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah:
1.      Karakteristik pribadi para bawahan,  diantaranya;
-          Letak kendali (locus of control), keyakinan individu bahwa reward/hasil yang diperoleh adalah hasil usaha sendiri  (kendali internal), yang paling tepat adalah model kepemimpinan participate. Letak kendali eksternal adalah bila mana hasil kerja tersebut berasal dari pemimpin yang telah memberikan pengarahan dan petunjuk-petunjuk sehingga memcapai hasil kerja yang optimal.
-          Kesediaan untuk menerima pengaruh (authoritarisme), kesediaan untuk menerima pengaruh dari orang lain
-          Kemampuan (abilities), kemampuan dan pengalaman bawahan akan mempengaruhi hasil kerja.
2.      Lingkungan internal organisasi ada beberapa yang perlu diketahui yaitu
-          Struktur tugas, struktur kerja yang tinggi akan mengurangi peran pemimpin, model kepemimpinan pada lingkungan kerja ini adalah model kepemimpinan directive, dimana pemimpin  memberitahu apa yang diharapkan dan memberi bimbingan pada bawahan
-          Wewenang formal, wewenang formal yang tinggi akan membagi habis tugas, maka kepemimpinan yang tepat pada kondisi ini adalah kepemimpinan jenis directive
-          Kelompok kerja, kelompok kerja dengan tingkat kerjasama yang tinggi kurang membutuhkan kepemimpinan jenis yang tepat adalah kepemimpinan jenis supportive, karena bawahan sudah memahami tugas pokok fungsinya, pemimpin hanya memberikan dorongan untuk mencapai tujuan dengan sempurna.

 Teori ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan.
  Cara seorang pemimpin mempengaruhi bawahan sebagai berikut;
·         Memperjelas jalan sehingga bawahan tahu jalan mana yang harus dilalui/pergi
·         Menghapus hambatan yang menghadangi jalan
·         Menghapus hambatan yang menghentikan mereka pergi kesana/tujuan
·         Meningkatkan penghargaan disepanjang rute
Dalam penerapan teori ini ada sisi kelemahannya yaitu terletak pada ketidakmampuannya dalam meramalkan partisipasi kerja bawahan karena dapat dikatakan bahwa peningkatan kepuasan tidak selalu dapat diidentikkan dengan peningkatan prestasi kerja. Teori ini belum mempunyai makna operasional yang memadai, perlu pengembangan lebih lanjut.















BAB III
PENUTUP
       Pada teori kepemimpinan Jalur Tujuan ini menerangkan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi motivasi dan prestasi kerja bawahannya, dalam situasi kerja yang berbeda-beda. Teori ini memusatkan perhatian pada cara pemimpin mempengaruhi prestasi kerja bawahan tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalan meraih tujuan. Teori Path Goal, menganjurkan pemimpin memiliki  dua fungsi dasar yaitu memberi kejelasan alur dan meningkatkan jumlah hasil (reward).
Teori ini menekankan tanggung jawab pemimpin untuk meningkatkan motivasi karyawan agar tujuan personal dan organisasional tercapai. Pemimpin meningkatkan motivasi bawahan dengan cara menunjukkan jalan menuju hadiah yang tersedia atau meningkatkan reward yang diinginkan atau diharapkan oleh bawahan. Tugas pemimpin disini adalah bagaimana bawahan bisa mendapatkan hadiah atas kerjanya, dan bagaimana seorang pemimpin menjelaskan dan mempermudah jalan menuju hadiah. Teori ini pemimpin mengubah perilakunya untuk bisa sesuai dengan situasi. Lembaga  pendidikan pada saat ini tepat menggunakan teori kepemimpinan Jalur Tujuan, karena memunculkan motivasi kerja yang maksimal dari personil lembaga. Dengan memberikan reward maka semangat kerja akan tinggi dan hal ini berdampak pada kinerja lembaga akan semakin mudah jalan menuju kesuksesan tujuan lembaga.








DAFTAR PUSTAKA

Amirullah. 2004. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Fahmi, Irham. 2012. Manajemen Kepemimpinan. Bandung: Alfabeta.
Fred Luhans. 1995. Organizational Behavior. 7-ed. Mc.Graw-Hill International.
Hikmat. 2011. Manajemen Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Rivai. Veithzal. 2012. Education Management Analisis dan Praktik. Jakarta. PT. Rajagrafindo Persada.
Safaria,Triantoro. Kepemimpinan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sashkin dkk. 2011. Prinsip-prinsip Kepemimpinan. Jakarta: Erlangga.
Terry. 2012. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.