Senin, 02 Agustus 2021

Kreatifitas Kunci Meraih Masa Depan

 

Kreatifitas Kunci Meraih Masa Depan

      Indria Mustika

      SMKN 2 Jepara

Menjelang Hari Kartini dan hari jadi, kembali Jepara akan menggelar ajang kreatifitas dalam mengekspresikan diri pada festival Kartini ke 3 tahun  2015. Lomba fashion show kategori PAUD sampai umum digelar untuk memotivasi warga dalam mengembangkan potensi tenun ikat dan batik khas Jepara, serta memberikan ruang apresiasi yang luas  terhadap tumbuh dan berkembangnya kreativitas masyarakat Jepara dan isekitar.

Kesempatan ini sangat tepat bagi pelajar Jepara umumnya  dan SMK jurusan Tata Busana maupun Tekstil pada khususnya. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi orang yang kreatif dan mau berekspresi melalui  karyanya dalam fashion dan sebagai latihan  unjuk keberanian  bagi anak-anak dalam pengembangan potensi dirinya.

Kreativitas sangat dibutuhkan untuk dapat mengembangkan potensi diri, serta kreatifitas dapat diupayakan oleh siapapun yang mau berusaha. Khususnya bagi siswa sekolah kejuruan kreatifitas sangat dibutuhkan. Namun kreatifitas ini tidak bisa muncul dengan sendirinya. Perlu ditumbuhkan agar berkembang dan dapat direalisasikan dalam bentuk karya nyata. Di sekolah kejuruan sangat diharapkan memiliki lingkungan yang mampu memotivasi dan mendukung munculnya kreatifitas siswa secara maksimal. Karena di sekolah tempat yang tepat bagi siswa untuk memaksimalkan potensi diri.

Berikut ini lima cara menumbuhkan kreatifitas, pertama yaitu observasi, mengamati lingkungan sekitar dimana kita berada. Baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat luar. Kejelian dalam mengamati lingkungan ini akan menumbuhkan pikiran-pikiran yang kreatif sesuai dengan bekal keilmuan di sekolah.

Kedua bertanya, menindaklanjuti hasil pengamatan yang menimbulkan pertanyaan. Setelah pengamatan akan muncul permasalahan yang perlu dipertanyakan. Segan dan malas untuk bertanya terkadang menjadi kendala kita, namun rasanya pertanyaan apapun berkaitan dengan apa yang diamati lebih membantu dalam menjawab hal yang belum kita pahami.

Ketiga diskusi, mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang muncul setelah mengamati suatu hal. Dengan berdiskusi akan memperoleh jawaban dan pemikiran yang luas. Hal ini akan membuka dan menambah wawasan kita, karena pemikiran orang banyak akan lebih baik jika dipikirkan oleh seorang saja.

Keempat asosiasikan hasil diskusi atau menyimpulkannya. Dengan kesimpulan yang dibuat akan muncul pemikiran baru dari pengamatan. Pemikiran dan ide baru inilah yang membuat kita kreatif. Terakhir yaitu komunikasi. Setelah ada kesimpulan atau hasil pemikiran maka harus dikomunikasikan. Hasil pemikiran akan bermanfaat bagi orang lain jika dikomunikasikan.

Sepertinya tidak sulit dipraktikkan untuk menumbuhkan kreatifitas kita. Sebagai insan kejuruan tentu kreatifitas memegang kunci penting untuk mengekspresikan ide-ide yang ada dalam kepala kita. Oke mari mulai menumbuhkan kreatifitas kita untuk mengekspresikan diri meraih sukses masa depan. Salam.

 

Generasi Milenial Menjadi Ibu Bangsa

 

Generasi Milenial Menjadi  Ibu Bangsa                       

                                                Oleh : Indria Mustika

            Salah satu keputusan penting  yang dikeluarkan  Konggres Perempuan Indonesia  II  di Jakarta tahun 1935    adalah menegaskan kewajiban  perempuan Indonesia untuk menjadi Ibu Bangsa. Tujuannya  agar dapat   mendidik generasi baru yang sadar akan kewajiban kebangsaannya. Sementara dalam konggres ke -3 yang berlangsung di Bandung  1938 ditetapkan tanggal 22 Desember  sebagai tonggak peringatan hari ibu dalam tugas besarnya sebagai Ibu Bangsa. Tanggal tersebut adalah saat diseleggarakan Konggres  Perempuan Indonesia I tanggal  22 Desember 1928 di Yogyakarta. Keputusan konggres  ini kemudian dikukuhkan dengan Keputusan Presiden  No. 316 tanggal 16 Desember 1959,  sebagai hari ibu  nasional.

Tugas sejarah kebangsaan sebagai Ibu Bangsa itu tidak berubah. Namun  ada   perbedaan tantangan fundamental  antar generasi yang sangat mendasar. Jika isu yang menjadi persoalan strategis dalam Konggres  Perempuan I.II, III dan IV adalah seputar pendidikan perempuan dan  perkawinan, maka kini persoalan kebangsaan yang dihadapi perempuan semakin rumit. Pasalnya ada   kelalaian bangsa kita dimasa lalu hingga munculnya krisis multidimensional. Krisis itu  diakibatkan oleh redahnya pemahaman  dan pengamalan nilai Pancasila, lunturnya penghargaan terhadap kebinekaan, intoleransi diruang agama, ketidakadilan, demokrasi  yang sedang mencari bentuk, fanatisme kedaerahan hingga  keteladanan pemimpin.

Belum lagi persoalan yang muncul akibat kemajuan teknologi yang telah mengubah budaya, nilai dan perilaku manusia. Termasuk  ibu melenial  yang lahir  antara tahun 1980 – 2000 an dalam mengasuh dan mendidik  anak-anaknya. Ibu milenial ini sangat penting sebab  kelompok ini menjadi generasi pertama yang sejak kecil terpapar teknologi,  jumlahnya sangat banyak serta memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka seperti tidak ingin mengasuh anaknya dengan pola yang pernah  dilakukan oleh orang tuanya. Secara umum gaya pengasuhan orang tua milenial   lebih rileks dan terbuka. Mereka senang jika anaknya mengikuti kegiatan edukatif – kreatif, bukan saja dilingkungan sekolah tetapi juga kegiatan diluar sekolah.

Namun ibu milenial tak ingin seluruh waktunya  menjadi ibu. Mereka ingin memiliki waktu khusus untuk dirinya  sendiri guna  melakukan aktivitas tanpa diganggu urusan rumah tangga. Karena itu pergi bersama ibu-ibu sebaya menjadi salah satu ciri ibu-ibu milenial. Termasuk dalam menggunakan teknologi komunikasi. Media sosial  tak bisa dilepaskan dari aktivitas sehari-hari. Mereka pada umumnya memiliki lebih  2  akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube. Walaupun telah mulai berubah, televisi masih menjadi media favorit ibu milenial untuk mendapatkan hiburan terutama yang tidak bekerja atau tinggal di pedesaan.

Penetrasi teknologi informasi ini  telah membentuk konstruksi berfikir anak-anak dari ibu milenial  yang saat ini berusia  hingga 17-an tahun.  Konstruksi ini   kemudian membentuk pandangan, perilaku dan pola tindak anak-anak bukan hanya pada persoalan sosial budaya, tetapi mencakup pandanganya tentang nilai-nilai  kebangsaan.

Karena itu Ibu mileial harus bersedia belajar agar cerdas menerima panggilan sejarah, menanamkan kesadaran berbangsa kepada anak-anaknya. Tujuannya agar  anak-anak memahami bahwa Indonesia lahir dari keberagam suku bangsa, agama, ras, dan kebudayaan yang diikat oleh ideologi Pancasila. Penulis yakin, kesadaran berbangsa  telah diajarkan di sekolah. Namun keluarga, utamanya ibu  memiliki waktu yang lebih banyak dan peran besar dalam membagun kesadaran  berbangsa dan bernegara yang konteks dan persoalanya berkembang dinamis. Jika  keluarga memiliki pondasi kebangsaaan yang kuat dan bersedia mengajarkan  nilai itu kepada putra-putrinya sesuai dengan perkembangan anak, akan muncul kesadaran untuk menjaga dan merawat Negara Kesatuan Republik Idonesia, termasuk melindungi bangsa ini dari segala ancaman.

Melihat semakin tergerusnya nilai-nilai kebangsaan yang nampak pada semakin maraknya paham  intoleransi, radikalisme dan bahkan gerakan sparatisme, terasa relevansinya kita menghadirkan kembali panggilan sejarah kaum perempuan untuk menjadi Ibu Bangsa. Oleh sebab itu agar peringatan Hari Ibu yang secara rutine kita peringati setiap tanggal 22 Desember tidak berhenti pada kegiatan serimonial, maka perlu revitalisasi peran strategis Ibu Bangsa dalam menamkan, merawat dan memperkokoh semangat kebangsaan putra-putrinya. Juga revitalisasi peringatan hari ibu secara terstruktur  dan berkelajutan. Tujuannya agar hari Ibu dapat senantiasa  menjadi momentum yang senantiasa diperbaharui untuk   menumbuhkan kesadaran kaum perempuan  menerima panggilan sejarah sebagai Ibu Bangsa.

Gerakan menjadi Ibu Bangsa ini harus digelorakan dan di viralkan  menjadi gerakan kolektif  perempuan Indonesia, termasuk  ibu milenial. Bukan hanya aktivis perempuan yang berada diperkotaan, wanita karier, tetapi juga mereka yang berada dipedesaan yang justru jumlahnya lebih banyak. Menurut penulis ada beberapa metode untuk menyebarkan virus kebangsaan ini kepada anak-anak  kelompok ibu  milenial sesuai dengan karakteristik kelompok ini. Keteladanan dalam keluarga,  edukasi kreatif tentang nilai-nilai kebangsaan serta  pendampingan dan pemilihan  media, mungkin  bisa menjadi cara yang efektif.

          Inilah saatnya membangkitkan kembali kesadaran bersama perempuan Indonesia akan  tugas besarnya   yang sangat menentukan masa depan bangsa ini. Tugas mulia itu adalah  mendidik dan membimbing anak bangsa agar menyadari pentingnya menjaga dan merawat NKRI dengan meneguhkan semangat   persatuan, kesatuan,  keberagaman dan  toleransi. Inilah bagian esensi nilai  kebangsaan kita yang selalu  diabaikan ketika kita masuk dalam tahun-tahun politik. (*)

Indria Mustika, M.Pd, adalah guru dan juga  Sekretaris Yayasan Kartini Indonesia

 

Daya Saing Lulusan SMK Sebuah Keniscayaan

 

Daya Saing Lulusan SMK Sebuah Keniscayaan

Indria Mustika

 

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah bulan Agustus 2017 harus dijawab oleh para pengelola satuan pendidikan SMK dengan kerja keras. Sebab berdasarkan data ini, tingkat pengangguran terbuka di Jawa Tengah sekitar 820.000 orang, justru menempatkan lulusan SMK rangking pertama yang memberikan kontribusi terhadap pengangguran terbuka dengan angka 11,08 persen. Sedangkan lulusan SMA hanya sebesar 7,10 persen. Padahal pada bulan Februari 2017 tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK baru 8,07 persen dan lulusan SMA 6,51 persen.

Data di atas harus dimaknai sebagai tantangan. Sebab sesuai amanat pasal 15 UU No. 20 tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kehadiran SMK dirancang untuk menyiapkan lulusannya dapat bekerja sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Memang tidak mudah,sebab dinamika pasar kerja berubah cepat akibat kemajuan teknologi. Karena itu ada banyak persoalan yang dihadapi untuk meningkatkan daya saing lulusan SMK di Jawa Tengah lima tahun mendatang.

Pertama; dinamika pasar kerja yang berubah cepat akibat kemajuan teknologi dan kebijakan investasi, telah mengakibatkan perubahan karakteristik dunia kerja yang menuntut kombinasi ketrampilan dan kemampuan berfikir logis. Pada tahun 2016, PMA di Jawa Tengah mencapai Rp.13,7 trilyun, dari 46 negara yang tersebar di 1.060 proyek investasi. Tentu hal ini menjadi tantangan dalam penyiapan tenaga kerja sesuai dengan teknologi yang menyertainya.

Kedua; profesionalitas dan ketercukupan guru. Di Jawa Tengah saat ini terdapat 1.568 SMK yang terdiri dari 234 SMK Negeri dan 1.334 SMK Swasta. Sedangkan guru yang ada tercatat 34.965 orang yang terdiri dari 10.684 orang guru di sekolah negeri dan 24.281 orang guru di sekolah swasta. Berdasarkan data yang ada di Direktotrat SMK Kemendikbud, mayoritas guru SMK berasal dari guru kelompok mata pelajaran bidang normatif dan adaftif. Sedangkan yang berkualifikasi guru kelompok mata pelajaran bidang produktif yang mempunyai sertifikat kompetensi hanya 22 persen. Perbandingan prosentase ini tidak jauh berbeda dengan kondisi di Jawa Tengah.

Ketiga; karakteristik peserta didik yang sejak kecil telah terpapar teknologi informasi, tentu lebih menyukai pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi. Pada kelompok ini pengajaran konvensional dengan tatap muka dan menggunakan sarana pembelajaran tradisonal tentu tidak menarik sehingga kurang mampu menumbuhkan minat belajar.

Keempat, keterbatasan sarana praktek. Jika dibandingkan dengan peralatan produksi dunia industri yang terus berkembang, banyak satuan pendidikan SMK yang peralatan prakteknya ketinggalan jaman. Akibatnya lulusan tidak siap bekerja didunia industri yang menggunakan teknologi baru.

Kelima; pembukaan sekolah baru dan juga program keahlian belum sepenuhnya didasarkan pada analisis proyeksi ketrampilan yang yang dibutuhkan oleh pasar kerja serta arah prioritas pembangunan, termasuk ketersediaan tenaga pendidik yang memiliki kompentensi.

 Persoalan daya saing lulusan SMK ini dilihat sebagai persoalan serius oleh presiden hingga dikeluarkan Instruksi Presiden No 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Walaupun program revitalisasi ini harus dipahami secara integratif dan komprehensif, menurut hemat penulis ada lima hal penting dalam meningkatkan daya saing lulusan SMK.

 Pertama; profesionalisme yang terus berkembang. Karena dunia usaha dan dunia industri terus bergerak dinamis, maka harus dijawab dengan peningkatan secara terus menerus kemampuan, sikap dan ketrampilan guru agar tidak tertinggal oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan bahkan tidak mampu merespon karakteristik siswa. Kecenderungan adanya perubahan pasar kerja yang menuntut perpaduan antara kompetensi dan kapabilitas, menurut penulis bisa dijawab dengan inovasi pembelajaran melalui pembelajaran kreatif. Pengintegrasian mata pelajaran normanda adaftif dengan mata pelajaran produktif serta penggunaan teknologi informasi dalam proses pembelajaran bisa jadi solusi untuk menumbuhkan minat, imajinasi, kreatifitas, ide, gagasan, kepercayaan diri, dan adaftif terhadap perubahan di dunia kerja.

Kedua; ketercukupan guru produktif baik dari sisi kualifikasi akademik maupun kompetensinya. Karena itu harus ada validasi data terkait dengan proyeksi kebutuhan guru produktif, termasuk berkurangnya jumlah guru produktif karena pensiun. Jika pemenuhan hanya bertumpu pada rekruitmen Pegawai Negeri Sipil maka ketercukupan guru produktif sangat lama. Karena itu harus ada regulasi bagi pengangkatan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja bagi para guru. Sebab UU No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara justru menutup peluang guru, karena termasuk profesi yang melaksanakan urusan pemerintah yang bersifat wajib. Disamping itu, perlu regulasi untuk mengatasi kekurangan guru melalui pengangkatan guru kontrak dengan menggunakan tenaga profesional dari dunia usaha. Cara lain adalah melalui program keahlian ganda, yaitu pengalihan fungsi ke mapel produktif melalui sertifikasi dan kompetensi. Namun program ini menurut hemat penulis seyogyanya diperuntukan bagi guru berusia muda.

Ketiga; rekruitmen kepala sekolah. Mengingat posisinya yang sangat penting dan strategis dalam mengembangkan sekolah vokasi, maka dalam rekruitmen kepala sekolah menurut hemat penulis perlu mulai dipertimbangkan salah satu kriterianya berasal dari guru produktif. Sehingga telah memahami dasar, konsep dan pengembangan sekolah vokasi.

 Keempat; fasilitasi kerjasama dengan dunia usaha. Agar SMK bisa mengarah pada permintaan pasar, maka perlu keterlibatan dan dukungan dunia industri yang ada di daerah. Karena itu perlu fasilitasi pemerintah daerah agar dunia industri membuka diri untuk tempat praktek siswa, magang guru, serta membantu sarana praktek melalui dana CSR.

Kelima : pengkajian dan pengendalian program keahlian. Agar lulusan SMK dapat terserap pada dunia kerja sesuai dengan kompetensi yang dimilikiinya, maka perlu ada pengkajian dan pengendalian program keahlian, baik pada sekolah yang telah berjalan maupun sekolah yang akan didirikan. Pengkajian dan pengendalian ini sangat penting kaitannya dengan proyeksi kebutuhan pasar kerja. Bagi program keahlian yang pasarnya telah jenuh menurut hemat penulis perlu dikendalikan.

Meningkatkan daya saing lulusan SMK adalah sebuah keniscayaan. Tidak mudah memang. Namun kita harus menerima tanggungjawab itu sebagai sebuah kewajiban. Bukan hanya karena pendidikan vokasi menjadi salah satu prioritas utama pendidikan nasional, tetapi masa depan bangsa ini harus dipastikan diserahkan kepada generasi yang memiliki daya saing. Karena di sinilah harkat dan martabat bangsa kita dipertaruhkan dalam persaingan global. (*)

Indria  Mustika, SP.d, M.Pd,  adalah Ketua Jurusan Tata Busana, SMKN 2 Jepara

 

 

Tumbuhkan Budaya Vokasi

 

   Tumbuhkan Budaya Vokasi

Pembelajaran   Berbasis Produktif Sebuah Solusi

Oleh : Indria Mustika

            Instruksi Presiden No 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Kejuruan Menengah   yang ditujukan kepada 12 Menteri Kabinet Kerja, 34 Gubernur dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi ( BNSP ), adalah bentuk keprihatinan Presiden melihat produktivitas dan daya saing sumber daya manusia yang rendah, khususnya lulusan SMK. Bukan saja dari aspek ketrampilan, tetapi juga mencakup etos kerja dan  karakter.

            Ada 6  instruksi Presiden  yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mulai   peta jalan pengembangan  SMK,  penyempurnaan dan penyelarasan kurikulum SMK  dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan, meningkatkan jumlah dan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan,meningkatkan kerjasama dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha/industri, sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi sekolah hingga  membentuk kelompok kerja pengembangan SMK.

            Walaupun Inpres 16 tahun 2016 itu harus dipahami secara utuh, termasuk pengintegrasian upaya revitalisasi SMK  dengan lembaga pemerintah  lain dan dunia usaha, penulis melihat penyempurnaan dan  penyelarasan kurikulum SMK dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha, harus dibaca pula sebagai upaya dan jalan  untuk menumbuhkan budaya vokasi siswa SMK. Tujuannya  agar siswa  memiliki minat terhadap program keahlian yang diplih, sehingga  kelak mereka benar-benar siap terjun ke dunia kerja  dan dunia industri sesuai dengan kompetensi  yang dimiliki. Sehingga tidak terjadi  lagi  insiden skill  mismatch, bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan ketrampilan seperti yang saat ini.

Sebab berdasarkan pengamatan penulis, ada banyak siswa SMK yang  masuk ke sekolah SMK dengan latar belakang pemikiran asal sekolah dan juga asal memilih jurusan. Mereka kurang menyadari bahwa ia sedang dipersiapkan menjadi tenaga kerja terampil. Akibatnya mereka lebih menyukai pelajaran produktif yang dianggap lebih santai karena praktik di bengkel,  ketimbang pelajaran normanda adaftif yang monoton di ruang teori. Belum lagi  metode mengajar guru yang kurang   kreatif.

Pelajaran normada yang menjadi kompetensi pendukung dalam penguatan materi produktif,  kurang dipahami siswa hubungannya dengan jurusan yang dipilih. Bahkan  seolah dianggap  tidak ada kaitannya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap minat siswa dalam mengikuti pelajaran normada. Bahkan siswa seakan  mengabaikan pelajaran normada. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar dan lemahnya karakter vokasi siswa.

Sehubungan dengan hal tersebut, upaya untuk   menumbuhkan  minat siswa pada budaya vokasi sangat penting dilakukan. Sebab minat dapat dikatakan kunci untuk menumbuhkan perhatian siswa pada proses belaja.  Karena itu proses belajar mengajar selalu  harus  dimulai dengan membangkitkan minat siswa. Tujuannya agar siswa terlibat sepenuhnya sehingga memiliki perhatian, konsentrasi, melekatkan bahan ajar serta mengurangi  kebosanan.

Terkait dengan upaya untuk menumbuhkan minat siswa pada budaya vokasi  kurikulum 2013 telah memberikan ruang bagi sekolah  mengembangkan struktur dan silabus sesuai kebutuhan sekolah. Juga menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hingga teknis pelaksanaan pembelajaran.

                                                                                                                        Peran sekolah

            Menurut penulis untuk  menjawab percepatan implementasi revitalisasi SMK terkait dengan instruksi presiden untuk melakukan  penyempurnaan dan penyelarasan kurikulum, utamanya untuk  menumbuhkan minat siswa terhadap budaya vokasi kuncinya ada  pada kesungguhan dan kreatifitas sekolah. Terkait dengan hal ini menurut penulis ada beberapa hal penting yang perlu di perhatikan :

Pertama,pengembangan silabus dan RPP guna penyelarasan kurikulum sesuai dengan diklat produktif yang dipilih sekolah. Struktur kurikulum dapat dikembangkan berdasarkan kompetensi inti dan kompetensi dasar sesuai kebutuhan sekolah. Sedangkan  silabus disusun bersama oleh musyawaran guru mata pelajaran (MGMP) yang disesuaikan dengan muatan lokal atau kearifan local. Dengan demikian siswa dapat tetap mempertahankan kearifan lokal daerah masing-masing.

Kedua; perlu dilakukan pengintegrasian mata pelajaran produktif dalam mata pelajaran normatif adaptif. Tujuannya agar minat siswa pada pelajaran normada meningkat untuk  mendukung  ketrampilan praktikal sesuai dengan program keahlian yang dipilih. Harapannya terbangun cara pandang sebagai insan vokasi untuk menguasi  ketrampilan terapan tertentu. Pelajaran normada sebaiknya  dibuat berbasis produktif. Implementasinya semua pelajaran normative adaptif terintegrasikan pada materi produktif. Dengan demikian semua atmosfer pembelajaran  di sekolah adalah untuk  mengembangkan  budaya vokasi.

Ketiga; pengintegrasian mata pelajaran produktif ini perlu  dilakukan secara berencana dalam bentuk dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penyusunan RPP yang integratif  dengan memasukkan unsur produktif didalam proses pembelajarannya normanda ini memerlukan kerja keras guru normada. Sebab para guru normanda harus menyesuaikan RPP dengan semua program studi siswa yang diajar.

Keempat ; pelibatan orang tua agar secara sinergis bersama-sama sekolah menanamkan cara pandang siswa sebagai   insan vokasi juga perlu dilakukan. Tujuannya agar orang tua memiliki pengetahuan tentang  program keahlian serta ruang lingkup jurusan yang dipilih anaknya.  Dengan demikian tindakan orang tua di rumah diharapkan sinergi dengan upaya sekolah dalam menguatkan budaya vokasi. Caranya bisa dilakukan secara bertahap, pada awal pembelajaran dan pertemuan secara berkala dengan orang tua untuk mendiskusikan perkembangan siswa.  Hal ini tidak sulit dilakukan jika dilaksanakan per kelas dengan melibatkan wali kelas.

Kelima; memanfaatkan IT dan mengembangkan imajinasi siswa. Sudah waktunya  guru membiasakan memanfaatkan IT di dalam kelas untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan serta untuk mengembangkan imajinasi siswa. Dengan pembelajaran yang menyenangkan maka siswa akan  lebih mudah termotivasi untuk membangun berimajinasi dan kreatifitasnya.

Keenam ; untuk menumbuhkan budaya vokasi  seharusnya dilakukan sejak dini, yaitu pada awal pembelajaran.  Ini bisa dilakukan pada masa orientasi yang dikelola dengan lebih produktif.  Budaya vokasi harus sudah ditanamkan pada siswa dari awal sehingga siswa  memahami apa yang harus dilakukan sebagai siswa vokasi.

            Menumbuhkan dan membangun minat dan perhatian siswa terhadap budaya vokasi adalah bagian penting dalam revitalisasi SMK. Sebab kualitas lulusan SMK menjadi alat ukur berhasil tidaknya program revitalisi SMK. Harapannya  memang SMK dapat menjadi “ kawah condrodimuko “ yang  melahirkan generasi muda yang terampil, kreatif, memiliki etos kerja dan semangat kewirausahaan serta  siap masuk dunia kerja, baik dengan menjadi wirausaha maupun bekerja di dunia industri. Namun terbuka juga peluang untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, tentu  sesuai dengan program keahlian  dan kompetensi yang dimiliki.  (*)

Indria  Mustika, SP.d, M.Pd,  adalah Ketua Jurusan Tata Busana, SMKN 2 Jepara

 

 

 

 

Guru Penggerak dan Pembelajaran Inovatif.

 

Guru Penggerak dan Pembelajaran Inovatif.

 

Menarik menyimak pesan  yang disampaikan   Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim kepada para guru yang sedang memperingati  Hari Guru Nasional tahun 2019. Bukan saja pada cara Nadiem  menyampaikan pesan, pilihan media, pilihan kata, diksi hingga narasi yang dibangun untuk memberikan gambaran terhadap persoalan guru dan  harapannya  kepada guru di seluruh pelosok tanah air.

 Dalam sambutan yang khusus ditujukan kepada para guru ini Nadiem berbicara tentang beban guru yang sangat berat yang  justru sangat mengganggu tugas guru dalam proses belajar mengajar. Beban tersebut meliputi tugas administratif, sistem penilaian, beban kurikulum, model hafalan,  penyeragaman materi pembelajaran  serta  belenggu  inovasi guru.

Namun nampaknya Nadiem sadar benar, bahwa untuk melakukan perubahan terhadap dunia pendidikan bukanlah hal sederhana. Sebab akan menyangkut sistem pendidikan di Indonesia yang perlu waktu lama untuk melakukan reformasi agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing. Karena itu Nadiem memilih menyentuh harga diri  guru dan mengajaknya menjadi  aktor untuk melakukan perubahan. Menurut Nadiem perubahan pendidikan  harus berawal dan berakhir dari guru. 

Nadiem mengajak guru untuk bergerak dan tidak menunggu aba-aba atau perintah dari atas. Perubahan kecil di kelas oleh guru itu menurut Nadiem meliputi kelas berdiskusi, kesempatan murid mengajar, kegiatan sosial,  menemukan bakat pada anak yang kurang percaya diri dan menawarkan bantuan untuk teman  guru  yang mengalami kesulitan.

                                                          Guru Penggerak dan Merdeka

Dalam sambutan yang kemudian viral di media sosial itu,  Nadiem memang tidak secara tertulis  menyebutkan konsep guru  penggerak dan guru merdeka  yang menurutnya bagian penting untuk mengawali reformasi dunia pendidikan. Nadiem baru menyampaikan konsep gerakan  guru penggerak dan guru merdeka  ini setelah upacara peringatan hari guru nasional tahun 2019.

Namun secara tersirat, ajakan kepada guru untuk bergerak bersama melakukan perubahan adalah inti  dari guru penggerak dan guru merdeka  yang senantiasa mengutamakan kepentingan murid dalam proses pembelajaran.  Kuncinya pada inisiatif, kreatifitas, inovasi, dan kesungguhan guru untuk melakukan hal-hal terbaik bagi muridnya. Karena itu Nadiem menawarkan konsep guru penggerak dan guru merdeka sebagai bagian  awal  dari reformasi pendidikan. Dalam konsep ini nantinya unit pendidikan, guru dan murid  memiliki kebebasan untuk berinovasi serta belajar  secara mandiri dan kreatif.

Disinilah nampak betapa  sangat pentingnya pengembangan pembelajaran inovatif. Tujuannya bukan saja dapat menyenangkan siswa dalam mengikuti proses belajar,  tetapi mampu memberikan inspirasi bagi tumbuhnya imajinasi, kreatifitas, semangat dan kepercayaan diri siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Dengan demikian belajar di kelas tidak lagi dipandang sebagai beban siswa.

Diantara sekian banyak metode pembelajaran, menurut penulis  pembelajaran inovatif tepat menjadi salah satu pilihan. Sebab dalam pembelajaran inovatif  lebih memberikan keleluasaan pada guru untuk memilih bahan ajar, metode, alat bantu, dan sumber belajar.

Secara garis besar pembelajaran inovatif harus melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan agar dapat menumbuhkan pemahaman dan kemampuan siswa  dalam pemecahan masalah. Disamping itu guru juga dapat menggunakan berbagai alat bantu dan media serta teknik pembelajaran untuk  membangkitkan semangat dan minat siswa dalam belajar, termasuk penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Penataan kelas, pengajaran yang koopratif dan interaktif juga bagian penting dari pembelajaran inovatif .

 Agar guru penggerak dan guru merdeka dapat menjadi sebuah gerakan bersama menurut penulis ada beberapa hal yang menurut penulis perlu diperhatikan :

Pertama; memuliakan kembali panggilan jiwa sebagai guru. Karena sangat pentingnya kehadiran guru dalam sebuah bangsa, mendidik dan mengajar harus merupakan panggilan jiwa. Panggilan jiwa itu pula yang mampu mendorong seseorang untuk mengajar dengan tulus, ikhlas, dan total serta senantiasa berusaha berbuat yang terbaik untuk siswa-siswinya.  

Kedua; menjadi guru pembelajar. Seorang guru yang tidak mau belajar, sejatinya ia telah memutuskan  berhenti menjadi guru. Sebab ia tidak lagi dapat mengikuti dan menyesuaikan  dirinya dengan perkembangan   ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergerak sangat cepat. Idealnya setiap garu harus bersedia untuk terus menerus mengembangkan diri dengan belajar. Bukan hanya mengikuti kegiatan pengembangan profesionalisme kedinasan.

Ketiga; jadikan sekolah sebagai pusat perubahan. Jika sekolah bisa mengembangkan cara pandang sebagai  pusat pengembangan peradaban, maka sekolah akan menjadi  lahan yang subur bagi tumbuhnya guru penggerak dan guru merdeka. Disini pentingnya  peran kepala sekolah untuk memberikan ruang bagi tumbuhnya guru yang kreatif.

Keempat; menjadikan sebagai gerakan bersama. Berbuat yang terbaik bagi siswa agar mereka dapat tumbuh dan berkembang sebagai generasi yang memiliki daya saing adalah tugas kebangsaan bagi seorang guru. Jika kesadaran akan  tugas mulia ini telah menyebar, maka guru penggerak dan guru merdeka mendapatkan ruang untuk menjadi sebuah gerakan bersama.

Semoga ajakan Nadiem bisa menjadi inspirasi para guru untuk menerima panggilan jaman,  mempersiapkan generasi yang memiliki daya saing.(*)

 

Sapta Utama Keteladanan R.A. Kartini

 

  

Sapta Utama  Keteladanan R.A. Kartini

   Oleh : Indria Mustika

Dalam  setiap kali kita memperingati  hari  besar nasional yang dikaitkan    dengan  ketokohan  seseorang, sering kali kita terjebak  pada acara serimonial. Jauh  dari ikhtiar  belajar dari nilai-nilai perjuangannya.  Demikian juga ketika memperingati  Hari Kartini. Kita  sering hanya menukar dan  memaknai nilai  perjuangannya dengan pakaian adat, resepsi,  upacara, dan bahkan   lomba memasak. Akhirnya R.A. Kartini  hanya dikenal sebatas predikatnya   sebagai pahlawan emansipasi,  pernah dipingit, lahir di Mayong  21  April 1879 serta   menikah dengan Bupati Rembang  dan  meninggal  setelah   melahirkan.

Setelah itu kita gagap menangkap nilai-nilai   R.A. Kartini yang harus  diteladani. Padahal nilai-nilai   ini  adalah    hal-hal   penting, ideal     dan  berharga,  baik berisi gagasan, sikap,  maupun perbuatan  yang telah dilakukan oleh R.A. Kartini di sepanjang hidupnya.  Nilai ini    kemudian menjadi lebih berarti dan berharga jika dapat di integrasikan dalam pendidikan karakter bangsa ini, utamanya anak-anak dan generasi muda.

Hal ini menjadi  penting sebab dewasa  ini pembangunan karakter bangsa menghadapi persoalan serius mulai arah pendidikan yang menempatkan kemampuan akademik sebagai fokus utama, penetrasi budaya asing yang sangat masif,  hingga  berkurangnya  keteladanan para pemimpin dan bahkan  orang  tua.

Karena itu  belajar dari perjalanan hidup R.A. Kartini dalam dimensi historis-sosiologis, surat-surat  panjang  kepada 11 sahabatnya dan dua nota kepada pemerintah Belanda, Yayasan Kartini  Indonesia yang selama ini fokus pada upaya pewarisan  nilai-nilai  R.A. Kartini, mencoba merumuskan nilai-nilai   R.A.  Kartini yang masih relevan sampai saat ini. 

                                                                                                                       Sapta Utama

            Banyak nilai-nilai luhur yang dapat kita  ambil dari gagasan, sikap  dan pernbuatan yang telah dilakukan  oleh R.A. Kartini untuk bangsanya. Nilai-nilai itu  saripatinya kami sebut sebagai Sapta Utama Keteladanan R.A. Kartini  yang meliputi:

Pertama, emansipatif. Nilai ini  meliputi kesetaraan dan persamaan  derajat bukan hanya antara laki-laki dan  perempuan, tetapi   mencakup  kepekaan dan kepedulian sosial, semangat  pembebasan  melawan  ketidak adilan,  kezaliman, kebodohaan, kemiskinan dan berani  menghadapi  penindasan walaupun atas  nama adat yang dijunjung tinggi  kaum bangsawan.

Kedua; nasionalis.  Apa yang dilakukan oleh  R.A. Kartini adalah wujud cintanya pada bangsa dan tanah  air. Ini ditunjukan dengan sikapnya yang sangat   menghargai keberagaman dan  pluralitas, mengembangan  budaya dan tradisi serta   menerima kemajuan dari manapun selama   mendukung penguatan  jati diri  bangsanya.

Ketiga; kritis. Walaupun harus berada dibalik  dinding pingitan, semangat untuk terus belajar,  telah  menjadikan R.A. Kartini sebagai pribadi yang cerdas dan argumentatif,   rasional  dan   analitis dalam melihat persoalan hingga memiiliki  pemikiran yang lengkap tentang persoalan yang dihadapi oleh bangsanya dan sekaligus merumuskan  jalan keluarnya..             

Keempat, kreatif.  R.A. Kartini sangat terbuka dengan gagasan dan ide baru,  terbuka terhadap  perubahan, menciptakan peluang berkarya, inovatiif dan senantiasa berorientasi  kemasa depan. Seperti yang telah dilakukan dengan merubah orientasi seni ukir Jepara dari seni menjadi  kerajinan.  Termasuk memasukkan motif-motif baru pada ukir  dan  batik Jepara.

 Kelima; optimis. Pingitan tidak membuat R.A. Kartini  menyerah. Juga  saat permohonan  bea siswa ke Batavia tidak juga turun       hingga  datangnya   lamaran Bupati Rembang yang telah memiliki istri.  Selalu  saja ada optimisme R.A. Kartini dari setiap  persoalan berat yang dihadapi. Ia gigih  memperjuangkan keyakinan, berprasangka dan  berkehendak baik, berfikir positif dan selalu berorientasi pada masa depan. 

Keenam; Bersahaja. Kesederhanaan adalah salah satu ciri  R.A. Kartini. Menghormati  sesama, tepa slira dan tidak menyombongkan diri  walaupun ia  anak  seorang Bupati. R.A. Kartini bahkan tidak  mau mengambil haknya sebagai putri  bangsawan untuk mendapatkan penghormatan dari  orang-orang yang  oleh adat harus  menghormatinya.     

Ketujuh; jujur. R.A. Kartini senantiasa  terbuka  menyampaikan kebenaran dan keyakinannya dan  bersedia belajar kepada  orang lain serta   menghormati  pendapat orang lain  walaupun berbeda dengan pandangannya.  R.A. Kartini   obyektif dan  berani  mengoreksi diri sendiri.

            Sapta Utama Keteladanan RA Kartini ini bukanlah sebuah teks mati. Kami     sangat  terbuka untuk  menerima pemikiran  baru.  Harapan  kami pemikiran ini  justru     bisa memantik  diskusi  bersama untuk merumuskan  nilai-nilai  R.A. Kartini yang masih relevan  untuk kita teladani dan wariskan. Referensi utamanya  tentu belajar dari    surat-surat panjang RA Kartini dan sejarah kehidupannya.  Ironisnya mungkin tidak pernah kita baca. (*)

Indria  Mustika,  M.Pd, adalah Sekretaris Yayasan Kartini Indonesia dan Guru  SMKN 2 Jepara