LATAR
BELAKANG
Sekolah
merupakan tempat untuk proses pendidikan formal. Sekolah adalah bagian dari masyarakat jadi
sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau ciri khas dari
wilyah setempat.
Untuk mewujudkan hal ini maka sekolah
harus memberikan program pendidikan yang dapat mengkondisikan peserta didik
agar memiliki wawasan tentang apa yang menjadi karakter lingkungan daerah
sekitar sekolah, baik yang berkaitan dengan kondisi alam, lingkung dan sosial,
dan lingkungan budaya maupun yang menjadi kebutuhan daerah.
Berdasarkan pemikiran yang demikian maka
diperlukan program pendidikan yang disesuaikan dengan potensi daerah atau
kearifan lokal. Untuk itu sekolah harus mengembangkan program pedidikan yang
berorientasi pada lingkungan sekitar dan potensi daerah atau muatan lokal.
Sehingga peserta didik diharapkan memiliki rasa cinta terhadap lingkungan dan dapat
mengembangkannya untuk modal ketrampilannya nanti. Realisasi dari hal ini
adalah dengan mengembangkan kurikulum
muatan lokal.
Kurikulum muatan lokal merupakan salah
satu bagian dari kurikulum yang berlaku saat ini, istilah muatan lokal dalam dunia
pendidikan di Indonesia secara resmi mulai tahun 1987, melalui Keputusan Mentri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987, tentang
muatan lokal. Kurikulum atau mata pelajaran muatan lokal pada awalnya bukan
mata pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan materi pelajaran lokal yang
dimasukan ke dalam berbagai bidang studi yang relevan. Ibrahim ( 1990 ),
mengemukakan bahwa “muatan lokal adalah program pendidikan yang isi dan media
penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta
kebutuhan perkembangan daerah”.
Sejak diberlakukannya kurikulum tahun 1994, muatan
lokal menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri, atau tidak lagi
diintegrasikan pada mata pelajaran lainnya. Konsep muatan lokal tidak lagi sama
seperti tahun 1987, konsep muatan lokal di sini
adalah
“Bentuk penyelenggaraan pendidikan yang bersifat desentralisasi, sebagai upaya pemerintah
untuk lebih meningkatkan relevansi terhadap kebutuhan daerah yang bersangkutan”
(Suharsimi Arikunto : 1998). Sedangkan pendapat lainnya mengemukakan bahwa
“Kurikulum muatan lokal menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri,
berdasarkan pendekatan monolitik” (Usman Wahyudi dan Yatim Riyani :1995).
Pendekatan monolitik bertitik tolak dari pandangan bahwa setiap mata pelajaran
mempunyai otonomi masing-masing, ia membawa misi tertentu dalam suatu kesatuan
sistem. Jadi pada kurikulum 1994 muatan lokal sudah menjadi bidang studi yang
berdiri sendiri, baik bidang studi wajib maupun bidang studi pilihan, atau
lebih dikenal dengan muatan lokal wajib dan muatan lokal pilihan.
A. Kajian Teori Tentang Program Muatan LokalKeterampilan
1. Pengertian Muatan Lokal Keterampilan
Kurikulum muatan lokal adalah seperangkat rencana dan
peraturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang ditetapkan oleh daerah sesuai dengan keadaan
dan kebutuhan daerah masing-masing (Depdikbud dalam Erry Utomo, 1997: 1).
Muatan lokal adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pelajaran yang ditetapkan oleh daerah sesuai dengan
keadaan dan kebutuhan daerah masing-masing serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Secara umum, pengertian muatan lokal adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran
yang disusun oleh satuan pendidikan sesuai dengan keragaman potensi daerah,
karakteristik daerah, keunggulan daerah, kebutuhan daerah,dan lingkungan masing-masing serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Secara khusus, muatan lokal adalah program pendidikan dalam bentuk mata
pelajaran yang isi dan media pembelajarannya dikaitkan dengan lingkungan alam,
lingkungan 14 sosial, dan lingkungan dipelajari oleh peserta didik di daerah itu
(Zainal Arifin, 2011: 205) .
Pengertian keterampilan dalam konteks pembelajaran
mata pelajaran di sekolah adalah usaha untuk memiliki keahlian yang dapat
bermanfaat bagi masyarakat. Keahlian yang dimaksud juga dapat diartikan sebagai
kemampuan dasar yang harus diasah melalui berbagai cara, dalam hal ini yang
dimaksudkan adalah pembelajaran keterampilan.
Penentuan
isi dan bahan pelajaran muatan lokal didasarkan pada
keadaan dan kebutuhan lingkungan, yang dituangkan
dalam mata pelajaran dengan alokasi
waktu yang berdiri sendiri. Adapun materi dan isinya ditentukan oleh satuan
pendidikan, yang dalam pelaksanaannya
merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan
keadaan dan kebutuhan daerah.
Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat di
daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan
sosial serta lingkungan budaya. Lingkungan alam adalah lingkungan alamiah yang
ada di sekitar, berupa benda-benda mati yang terbagi dalam empat kelompok
lingkungan, yaitu pantai, dataran rendah termasuk di dalamnya daerah aliran
sungai, dataran tinggi dan pegunungan
atau gunung. Dengan kata lain, lingkungan alam adalah lingkungan hidup dan
tidak hidup, dimana tempat makhluk hidup tinggal dan membentuk ekosistem.
Kemudian lingkungan sosial adalah lingkungan dimana terjadi
interaksi orang per orang dengan kelompok sosial dengan kelompok lain.
Pendidikan sebagai sosial dalam sistem sosial dilaksanakan di sekolah,
keluarga, dan masyarakat. PP No.28/1990
menunjukkan perlunya perencanaan kurikulum muatan lokal yang bermuara pada hal
yang berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional dan pemba ngunan bangsa. Lingkungan
budaya adalah daerah dalam pola kehidupan masyarakat yang berbentuk bahasa
daerah, seni daerah, adat istiadat daerah, serta tatacara dan tatakrama khas
daerah.
Selain itu
juga termasuk keterampilan untuk mengembangkan kemampuan dari dalam diri
seseorang.
Berdasarkan
beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan muatan lokal keterampilan adalah
suatu upaya pembelajaran yang diberikan berupa mata pelajaran yang berkaitan
untuk meningkatkan kemampuan dasar yang dimiliki siswa. Isi dan media
penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan
lingkungan budaya yang ada di daerah tersebut dan wajib diikuti oleh seluruh perta
didik. Selain itu juga dapat diarahkan dengan pembelajaran keterampilan, agar
siswa dapat mengetahui potensi dasar yang dimiliki.
Tujuan muatan lokal adalah untuk memberikan bekal
pengetahuan,
keterampilan dan sikap hidup kepada peserta didik agar
memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungan dan masyarakat sesuai dengan
nilai yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah
serta pembangunan nasional.
Lebih lanjut
dikemukakan, bahwa secara khusus pelajaran muatan lokal bertujuan agar peserta
didik :
- Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya.
- Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya.
- Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Pemahaman terhadap konsep dasar dan tujuan muatan
lokal di atas, menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum muatan lokal pada hakekatnya
bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara peserta
Adapun fungsi muatan lokal (Abdullah Idi, 2007: 266267) dalam komponen kurikulum secara keseluruhan memiliki fungsi sebagai berikut:
a.Fungsi
Penyesuaian
Sekolah merupakan komponendalam masyarakat, sebab
sekolah berada dalam lingkungan masyarakat. Oleh karena itu,
program sekolah harus disesuaikan dengan lingkungan
dan kebutuhan daerah dan masyarakat. Demikian juga pribadi-pribadi yang ada
dalam sekolah yang hidup dalam lingkungan masyarakat, sehingga perlu diupayakan
agar setiap pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan daerah
lingkungannya.
b.Fungsi
Integrasi
Peserta didik adalah bagian integral dari masyarakat. Karena
itu, muatan lokal merupakan program pendidikan yang berfungsi mendidik pribadi-pribadi
peserta didik agar dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat dan
lingkungannya atau berfungsi untuk membentuk
dan mengintegrasikan pribadi peserta didik dengan masyarakat.
c.Fungsi
Perbedaan
Peserta didik yang satu dengan yang lain berbeda. Pengakuan atas perbedaan berarti memberi
kesempatan bagi setiap pribadi untuk
memilih apa yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya.
Muatan lokal
adalah suatu program pendidikan yang
pengembangannya bersifat luwes, yaitu program pendidikan yang pengembangannya disesuaikan
dengan minat, bakat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik, lingkungan dan
daerahnya. Hal ini bukan berarti muatan lokal akan mendidik setiap pribadi yang
individualistik, akan tetapi muatan lokal harus dapat berfungsi untuk mendorong
dan membentuk peserta didik kearah kemajuan sosialnya dalam masyarakat.
Berdasarkan tujuan dan fungsi tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan
tujuan dan fungsi muatan lokal keterampilan adalah untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan
sikap hidup kepada peserta didik serta mata pelajaran muatan lokal keterampilan
ini menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, memberikan bekal agar siswa dapat
bermanfaat untuk masyarakat sekitar, serta memberikan wawasan agar siswa
mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki dan kemampuan dasar tersebut menjadi
kelebihan dari siswa itu sendiri
.
3.Kedudukan Muatan Lokal
Kududukan kurikulum muatan lokal merupakan satu
kesatuan utuh
yang tak terpisahkan dari kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP). Kurikulum muatan
lokal merupakan upaya agar penyelenggaraan pendidikan di daerah dapat
disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan
daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan denganupaya
peningkatan mutu pendidikan nasional, sehingga pengembangan dan
implementasi
kurikulum
muatan lokal mendukung dan melengkapi KTSP.
Muatan lokal memiliki posisi sebagai komponen
kurikulum.
Muatan lokal adalah bahan yang berkaitan dengan
lingkungan sekitar yang dianggap penting oleh pendidik atau masyarakat sekitar
untuk dipelajari oleh anak didik. Sebagai komponen kurikulum, muatan lokal merupakan media penyampaian. Agar dapat
mempelajari sesuatu dengan baik, diperlukan sumber bacaan atau narasumber yang
memahami bahan pengajaran itu. Sumber bacaan yang ditulis oleh orang daerah dan
narasumber yang berasal dari daerah merupakan media.
Muatan lokal dalam kurikulum dapat menjadi
matapelajaran yang berdiri sendiri atau menjadi bahan kajian suatu mata pelajaran
yang telah ada.
Sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, muatan
lokal memiliki alokasi waktu tersendiri. Tetapi, sebagai bahan kajian mata pelajaran,
muatan lokal sebagai tambahan bahan kajian yang telah ada. Karena itu, muatan
lokal bisa mempunyai alokasi waktu sendiri dan bisa juga tidak. Muatan lokal
sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri tentu dapat di
berikan alokasi jam pelajaran. Misalnya : mata
pelajaran bahasa daerah, pendidikan
kesenian, dan pendidikan keterampilan. Demikian pula, muatan lokal sebagai
bahan kajian tambahan dari bahasan atau lebih yang dapat diberikan alokasi
waktunya, tetapimuatan lokal sebagai bahan kajian yang merupakan penjabaran
yang lebih mendalam dari pokok bahasan atau subpokok bahasan yang telah ada,
sukaruntuk diberikan alokasi jam pelajaran tersendiri. Muatan lokal itu sendiri
berupa disiplin di sekolah, sopansantun berbuat dan berbicara, kebersihan serta
keindahan sangat sukar, bahkan tidak mungkin diberikan alokasi waktu (Abdullah
Idi, 2007).


|



![]() |
|||
|
|||




Gambar 1. Kedudukan Muatan Lokal dalam
Kurikulum
Kedudukan muatan lokal dalam kurikulum adalah 20 %
dari seluruh program kurikuler yang berlaku. Alokasi waktu yang diberikan juga
20% dari keseluruhan program kurikuler di sekolah. Alokasi waktu untuk mata
pelajaran muatan lokal di setiap jenjang pendidikan itu hampir sama yaitu 2 jam
pelajaran, hanya berbeda waktunya untuk masing-masing jenjang.
- Jenjang pendidikan dasar, untuk tingkat SD/MI/SDLB, masing-masing 2 jam pelajaran per minggu ( 1 jam pelajaran = 35 menit) , sedangkan SMP/MTs/SMPLB, masing-masing 2 jam pelajaran perminggu ( 1 jam pelajaran = 40 menitJ
- Jenjang pendidikan menengah, untuk SMA/MA/SMALB, masing-masing 2 jam pelajaran per minggu ( 1 jam pelajaran = 45 menit), sedangkan SMK/MAK masing-masing 2 jam pelajaran per minggu (1 jam pelajaran = 45 menit dan durasi waktu 192 jam) Adapun kegiatan belajar mengajar efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester), baik untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, maupun SMK/MAK pada umumnya berkisar 34 sampai 38 minggu.
Hal ini bisa
dipelajari lebih lanjut dengan kalender pendidikan, dan dikembangkan sesuai
dengan kondisi dan lingkungan di satuan pendidikan masing-masing.
Berdasarkan susunan program di atas, nampak bahwa
muatan lokal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan mata
pelajaran yang wajib diberikan kepada peserta didik di setiap tingkat kelas.
Adapun mengenai isi dan pengembangannya merupakan kewenangan satuan pendidikan
dan daerah masing-masing.
Kedudukan muatan lokal keterampilan memiliki alokasi
waktutersendiri. Dalam hal ini perbandingan alokasi waktu yang diberikan dengan
kegiatan kurikuler yang lainnya adalah 80 % dan 20 %. Muatan
lokal keterampilan memiliki alokasi waktu 20% atau 2 jam pelajaran setiap
minggunya. Mata pelajaran muatan lokal ini tidak berbeda dengan mata pelajaran
yang lainnya dan juga memiliki kedudukan yang sama, mata pelajaran muatan lokal
ini juga harus diikuti oleh semua siswa.
4.Ruang Lingkup Muatan Lokal
Ruang lingkup
dari muatan lokal disekolah adalah sebagai berikut:
a) Muatan lokal
dapat berupa : bahasa daerah, bahasa asing (arab, Inggris, Mandarin dan Jepang), kesenian
daerah, keterampilan dan kerajinan
daerah, adat istiadat (termasuk tata krama dan budi pekerti), dan pengetahuan
tentang karakteristik lingkungan sekitar, serta hal-hal yang dianggap perlu
oleh daerah yang bersangkutan.
b) Muatan lokal
wajib diberikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, baik pada
pendidikan umum, pendidikan kejuruan maupun pendidikan khusus.
c) Beberapa
kemungkinan ruang lingkup wilayah berlakunya kurikulum muatan lokal, adalah
sebagai berikut:
pada seluruh kabupaten/kota dalam suatu provinsi,
khususnya di SMA/MA/SMK (Suharsimi Arikunto, 1997: 48) .Muatan lokal pada satu kabupaten/kota
atau beberapa kabupaten/kota tertentu dalam suatuprovinsi yang memiliki
karakteristik yang sama.Pada seluruh kecamatan dalam suatu kebupaten/kota
yang memiliki karakteristik yang sama. Setiap sekolah dapat memilih dan
melaksanakan muatan lokal sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi
masyarakat, serta kemampuan dan kondisi sekolah.
Ruang lingkup muatan lokal yang sangat banyak dan juga
encakup seluruh aspek, yang disesuaikan dengan daerah masing-masing. Ruang
ingkup yang sangat luas tersebut juga akan menjadikan ciri khas setiap sekolah.
Kelebihan muatan lokal ini akan memberikan pengetahuan yang berbeda untuk
siswanya. Termasuk muatan lokal keterampilan yang merupakan salah satu muatan
lokal yang berbeda dengan yang lain. Keterampilan yang diberikan menjadikan
bekal untuk siswa dalam melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.
5.Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal
Berdasarkan pengalaman yang lalu, setiap daerah memiliki
berbagai pilihan mata pelajaran muatan lokal baik untuk cakupan wilayah
propinsi, kabupaten maupun kecamatan. Sehubungan dengan itu, dalam
pelaksanaannya terdapat beberapa tahap yang dilalui, baik pada tahap persiapan
maupun pada pelaksanaannya (E.Mulyasa, 2007)
a. Persiapan
Beberapa hal
yang harus dilakukan oleh guru, kepalasekolah dan tenaga pendidik lain di
sekolah pada tahap persiapan ini sebagai berikut:
1) Menentukan
mata pelajaran muatan lokal untuk setiap tingkat kelas yang sesuai dengan
karakteristik peserta didik, kondisi sekolah,dan kesiapan guru yang akan
mengajar.
2) Menentukan
guru. Guru muatan lokal sebaiknya guru yang ada di sekolah, tetapi bisa juga
menggunakan narasumber yang lebih tepat
dan professional. Misalnya untuk kesehatan menggunakan tenaga kesehatan, pertanian
menggunakan penyuluh pertanian, dan kesenian memanfaatkan seniman yang ada di
lingkungan sekitar sekolah. Kehadiran mereka bisa part time(paruh waktu), hanya
membantu guru, tetapi bisa juga full time(keseluruhan waktu), langsung memegang
dan bertanggung jawab terhadap mata pelajaran muatan lokal tertentu. Kegiatan
ini bisa dikoordinir oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang
akademis, bekerja sama dengan komite
sekolah.
3) Sumber dana
dan sumber belajar.
Dana untuk
pelajaran muatan lok al dapat menggunakan dana BOS(Bantuan Operasional
Sekolah), tetapi bisa juga tidak. Bagi SMK dan SMA mungkin bisa menjual produk
pembelajaran muatan lokal ke masyarakat sehingga biaya
operasional bisa tertanggulangi. Misalnya keterampilan membuat wayang golek dari
kayu di daerah Purwakarta, Jawa Barat. Demikian halnya dalam kesenian, bisa
membuat group tari atau group seni tertentu, yang sewaktu-waktu bisa
ditampilkan kepada masyarakat.
b. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal hampir sama dengan
mata pelajaran lain, yang dalam garis besarnya adalah sebagai berikut:
1) Mengkaji
silabus
2) Membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
3) Mempersiapkan
penilaian
c. Tindak Lanjut
Tindak lanjut adalah langkah-langkah yang akan dan
harus diambil setelah proses pembelajaran muatan lokal. Tindak lanjut ini erat
kaitannya dengan hasil penilaian terhadap pelaksanaan pembelajaran. Bentuk
tindak lanjut ini, bisa berupa perbaikan terhadap proses pembelajaran, tetapi
juga bisa merupakan upaya untuk mengembangkan lebih lanjut hasil pembelajaran,
misalnya dengan membentuk kelompok belajar, dan group kesenian (E.Mulyasa,
2007)
Pelaksanaan
muatan lokal harus dipersiapkan dengan matang, pelaksanaan muatan lokal juga
harus disesuaikan dengan daerah masing-masing. Pelaksanaannya juga bertahap
yaitu tahap persiapan, pelaksanaan pembelajaran dan juga tindak lanjut yang
harus dilakukan. Semua itu harus dilakukan dengan runtut agar pelaksanaan
muatan lokal disekolah dapat berjalan dengan baik.
6.Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pembelajaran
Muatan Lokal
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pembelajaran muatan lokal yaitu:
a. Pengorganisasian
Bahan
Pengorganisasian
bahan hendaknya:
1) Sesuai
dengan tingkat perkembangan peserta didik, baik
perkembangan pengetahuan, cara berfikir, maupun perkembangan sosial dan
emosionalnya.
2) Dikembangkan
dengan memperhatikan kedekatan siswa,baik secara fisik maupun psikis.
3) Dipilih yang
bermakna dan bermanfaat bagi siswa dalam
kehidupan sehari-hari.
4) Bersifat
fleksibel, yaitu memberi keleluasaan bagi guru dalam memilih metode dan media
pembelajaran.
5) Mengacu pada
pembentukan kompetensi dasar tertentu secara jelas.
Pengelolaan guru hendaknya:
1) Memperhatikan
relevansi antara latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang diajarkan
2) Diusahakan yang
pernah mengikuti penataran, pelatihan atau kursus tentang muatan lokal
c. Pengelolaan
Sarana Pembelajaran
Pengelolaan sarana pembelajaran hendaknya:
1) Memanfaatkan
sumber daya yang terdapat di lingkungan sekolah secara optimal
2) Diupayakan
dapat dipenuhi oleh instansi terkait
d. Kerjasama
antar instansi
Untuk
mewujudkan tujuan kurikulum muatan lokal, perlu diupayakan kerjasama antar instansi
terkait, antara lain berupa:
1) Pendanaan
2) Penyediaan
nara sumber dan tenaga ahli
3) Penyediaan
tempat kegiatan belajar
4) Hal-hal
lain yang menunjang keberhasilan pembelajaran muatan lokal
(E.Mulyasa,
2007).
Hal-hal tersebut diatas sangat berpengaruh dalam
pelaksanaan muatan lokal keterampilan di sekolah. Setiap sekolah haruslah benar-benar
memperhatikan semua aspek tersebut yaitu pengelolaan bahan, pengelolaan guru,
pengelolaan sarana pembelajaran dan kerjasama antar
instansi. Semua itu akan berpengaruh besar apabila
tidak diperhatikan dengan baik, jika salah satu diantaranya itu mengalami
permasalahan maka hasil pelaksanaan muatan
lokal tidak akan tercapai dengan maksimal.
Keempat komponen tersebut dapat mengungkapkan
keseluruhan pelaksanaan muatan lokal keterampilan yang ada di suatu sekolah. Komponen
tersebut merupakan komponen yang ada pada pelaksanaan
pembelajaran
muatan lokal. Berdasarkan komponen tersebut dapat dilihat
keberhasilan
pelaksanaan muatan lokal keterampilan dari awal, kemudian
proses dan hasilnya. Pemberian bekal keterampilan
dalam bentuk pelajaran muatan lokal keterampilan ini akan mengasah kemampuan
dasar siswa dalam bidang keterampilan. Kemampuan dasar ini dapat menjadi bekal
untuk siswa dalam memilih karir siswa itu sendiri di masa depan.
Bab ini adalah bab terakhir dari makalah tentang pengembangan
kurikulum muatan lokal ketrampilan. Dalam bab ini dikemukakan beberapa
kesimpulan dari pembahasan sebelumnya serta saran, yaitu sebagai berikut :
- Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya maka penulis
mengemukakan beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut :
- Kurikulum muatan lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum nasional, keberadaannya diberikan porsi 20% isi kurikulum dan 80% kurikulum nasioanal, hal ini bertujuan agar penyelenggaraan pendidikan di daerah lebih meningkat relevansinya dengan keadaan dan kebutuhan lingkungannya, yang ditujukan terutama agar peserta didik mencintai lingkungannya. Hal tersebut sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional, oleh karena itu keberadaan kurikulum muatan lokal harus mendukung pelaksanaan kurikulum nasional.
- Tujuan program pengembangan kurikulum muatan lokal adalah untuk memberikan bekal pengetahuan keterampilan, pembentukan sikap dan prilaku siswa, agar mereka memiliki wawasan yang luas, dan mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Sehingga nantinya siswa mampu mengembangkan serta melestarikan sumber daya alam dan kebudayaan yang mendukung pembangunan nasional dan daerah.
- Dalam meningkatkan relevansi pendidikan dengan pembangunan dan kebutuhan masyarakat, pemerintah mengupayakan diantaranya dengan pengembangan kurikulum muatan lokal, atau dengan kebijakannya “Link and Match”. Melalui kebujakan ini perlu diperkuat keterkaitan antara pendidikan dan dunia usaha dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan sertifikasi pendidikan dan pelatihan yang relavan dengan kebutuhan ekonomi.
- Saran
Berdasarkan
pembahasan di atas, dalam makalah ini penulis mengemukakan saran-saran sebagai
berikut :
a) Bagi
Departemen Pendidikan Nasional atau lembaga pengembangan kurikulum, mengingat
dalam implementasi pengembangan kurikulum muatan lokal masih jauh dari yang
diharapkan, disarankan agar senantiasa melakukan pemantauan ke lapangan untuk
melihat secara langsung pelaksanaan pembelajaran muatan lokal.
b) Bagi pihak
Sekolah, (Kepala sekolah dan guru), agar proses belajar mengajar yang dilakukan
terkait dengan kemampuan anak kebutuhan masyarakat dan lingkungannya, maka disarankan untuk mencari
sumber-sumber belajar yang berkaitan dengan kebutuha masyarakat. Sumber-sumber
tersebut bisa didapatkan dari tokoh-tokoh masyarakat yang ada di daerah.
c) Bagi para
orang tua dan masyarakat, diharapkan selalu berpartisipasi dalam pelaksanaan
pendidikan, karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,
masyarakat dan pemerintah. Peningkatan partisipasi ini bisa dilakukan antara
lain memberitahukan program-program yang akan dan sedang dilaksanakan di atau
oleh masyarakat, kepada pihak sekolah untuk dipelajari dan disesuaikan dengan program/kurikulum
sekolah.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, (1993), Link and Match, Jakarta,
Seri kebijakan
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. ( 1994 ), Kurikulum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama,
Jakarta, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
Hamalik. Oemar. (1999). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta.
Bumi Aksara.
Ibrahim dan Beny Karyadi, (1991), Pengembangan Inovasi Kurikulum. Jakarta,
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD
Setara D-II.
Idi. Abdullah.(2011). Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik.
Jogyakarta. Ar-Ruzz Media.
Kleong Klede Jaya, (1990), Peraturan Pemerintah R.INo. 27-28-29
& 30 Tahun 1990
Tentang Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Nana Syaodih Sukmadinata, (1988), Prinsip Dan Landasan Pngembangan Kurikulum.
Jakarta, Depdikbud, P2LPTK.
_______________ (2000), Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek.
Bandung, Remaja Rosda Karya.
Suharsimi Arikunto dan Asnah Said,
(1998), Pengembangan Program Muatan Lokal
(PPML). Jakarta, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Proyek Peningkatan
Mutu Guru Kelas Setara D-II.