
Revitalisasi Hubungan
SMK dengan DUDI
Oleh
: Indria Mustika
Hanya menjadikan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai
tempat praktik kerja industri (prakerin)
siswa SMK adalah cara pandang lama yang harus segera dirubah.
Sebab kerjasama SMK dengan DUDI seharusnya
dirancang secara holistik dan komprehensif untuk menjawab kebutuhan pasar kerja yang bergerak dinamis.
Namun ini tidak mudah. Ada banyak persoalan yang dihadapi SMK mulai
ketersediaan guru produktif, kompetensi guru, sarana dan prasarana, kurikulum,
kelembagaan dan pembinaan kesiswaan dan
sertifikasi kompetensi.
Muara dari persoalan itu nampak pada tingkat mutu dan relevansi lulusan SMK, yaitu keterserapan lulusan dan
kesesuaian bidang pekerjaan dengan
bidang keahlian yang nampaknya semakin
jauh panggang dari api. Data
Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada
tahun 2017 lalu, SMK justru menjadi penyumbang terbesar
pengangguran dengan angka 11,41 persen.
Persoalan itulah yang menjadi salah satu
latar belakang mengapa,
revitalisasi kerjasama DUDI dengan
SMK menjadi salah satu fokus perhatian Inpres 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. DUDI tidak boleh lagi hanya menungggu
tersedianya tenaga kerja yang
terampil tanpa bersedia terlibat dalam proses pembentukannya.
Namun
demikian, kendati Inpres 9 tahun
2016 telah diterbitkan, bukan berarti persoalan hubungan SMK dengan DUDI selesai. Sebab
cara pandang lama yang menganggap
penyiapan sumberdaya manusia adalah
tanggung jawab sekolah masih sangat
kuat. Belum lagi lemahnya posisi
tawar dan kemampuan pengelola sekolah dalam membuka pintu kerjasama, utamanya
dengan DUDI berskala nasional dan
internasional.
Karena itu
intervensi pemerintah tidak
boleh hanya berhenti pada
terbitnya Inpres tentang Revitalisasi
SMK. Perlu langkah kongkrit untuk mempertemukan DUDI dengan SMK dalam
sebuah kerjasama yang setara dan sepadan. Tujuannya agar SMK
tidak gagal menjawab tantangan karakteristik kerja yang akan menyertai hadirnya revolusi indusri keempat. Juga berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan disertai dengan mobilitas dan persaingan tenaga kerja secara bebas antar negara.
Pembentukkan Tim Fasilitasi Lintas Sektor dengan
tugas utama untuk menjadi pendamping dan jembatan terbangunnya kerjasama antara SMK dan DUDI bisa
jadi menjadi salah satu cara yang efektif dan rasional. Disamping itu perlu adanya insentif bagi DUDI yang ambil bagian dalam proses pengembangan
SMK. Agar bentuk kerjasama ini
lebih permanen, perlu payung hukum yang
jelas.
Tugas kebangsaan DUDI
Peran serta DUDI dalam menyiapkan
sumberdaya manusia menurut saya adalah
bagian dari tugas kebangsaan. Sebab
berkaitan langsung dengan
upaya mempersiapkan generasi muda
Indonesia agar memiliki kualifikasi dan kompetensi untuk bersaing
mengisi peluang kerja yang ada. Daya saing ini tentu berkaitan
dengan martabat kita sebagai suatu bangsa. Karena itu
perlu dilakukan kerjasama holistik
dan komprehensif antara SMK
dengan DUDI. Skema kerjasama bisa dilakukan melalui pengembangan dan implementasi strategi dual
system.
Strategi ini dirancang bersama antara sekolah dengan DUDI untuk memastikan
kurikulum selaras dengan kebutuhan dunia kerja dengan memadukan secara
sistematis program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian
melalui praktek di dunia kerja sesuai
dengan orientasi kompetensi yang
ingin dicapai. Dengan demikian
diharapkan dapat menjamin keterserapan
lulusan dalam dunia kerja sesuai
dengan bidang keahliannya.
Disamping kurikulum, strategi dual
system juga mensyaratkan
pengelolaan prakerin dan magang kerja
dilakukan dengan mengimplementasikan
silabus kedalam pembelajaran. Dengan demikian kemampuan peserta
didik yang didapat melalui latihan dan praktik di sekolah dapat diterapkan
di dunia kerja pada saat prakerin. Karena itu harus disusun modul prakerin yang dapat menjadi pedoman bersama untuk melakukan pendampingan, penilaian dan
evaluasi.
Menghadirkan teaching factory juga bagian
penting strategi dual system.
Tujuannya untuk memberikan pengalaman nyata kepada siswa untuk menghasilkan
sebuah produk melalui transfer lingkungan industri kedalam ruang praktik di sekolah. Dengan demikian teaching factory dijalankan berdasarkan
prosedur dan standar kerja yang
sesunggungnya. Demikian juga
kerjasama dalam peningkatan kualitas guru melalui program
magang. Tujuannya agar guru produktif
dapat memahami perkembangan dunia industri.
Kerjasama DUDI dan SMK adalah sebuah
keniscayaan, Harapannya kerjasama ini
dapat menjadi bagian dari program akselerasi
untuk mempersiapkan sumberdaya
manusia yang memiliki ketrampilan yang
diperlukan oleh dunia kerja.
(*)
Indria Mustika, SP.d, M.Pd, adalah Ketua
Jurusan Tata Busana di SMKN 2 Jepara




.